Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2012

Nafkahi Isteri



Sebelum mengulas tentang judul di atas, saya akan berbagi cerita pengalaman saya sewaktu di Makkah saat umrah. Saat itu pukul 11 menjelang siang di bulan Ramadhan, suhu cua
ca mencapai 48 derajat Celcius. Memilih menanti zuhur dengan berdiam dalam masjid ketimbang plesiran di bawah terik matahari membawa saya pada perkenalan dengan seorang BMI asal Tasikmalaya, sebut saja ibu Mien. Ibu Mien bercerita bahwa ada beberapa laki-laki Arab yang memperlakukan isteri-isterinya (mayoritas di negara Arab, laki-laki beristeri lebih dari satu) dengan baik. Mereka memberikan secara adil uang belanja dan uang nafkah kepada isteri-isterinya secara adil. Laki-laki di Arab, membedakan uang belanja dengan uang nafkah. Apa bedanya ?
Uang belanja adalah uang sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan belanja, uang saku anak-anaknya. Sedangkan uang nafkah adalah memberikan sebagian harta yang dimilikinya, seperti tanah, kendaraan, tabungan, sebagai wujud tanggung jawabnya sesuai janji ijab qabul. Hal ini dimaksudkan agar isteri-isterinya dapat mandiri dengan memanfaatkan hasil nafkah yang diberikannya untuk keperluan pribadinya. Sehingga tidak berkesan isteri seolah hanya 'pelayan rumah tangga' atau 'pengemis' saat meminta satu keinginan dari sang suami. Kadang dalam sekali sebulan, mereka mengajak isteri-isterinya itu pergi bersama, misalkan ke toko emas. Di sanalah suami membebaskan isteri-isterinya untuk membeli apa yang di inginkannya. Sebagai wujud upaya menafkahi bukan membelanjai. Beda tipis maksud tapi luas pemahamannya. Saya cukup terpana dengan uraian ibu Mien. Betapa kalimat 'menafkahi' di sini begitu luas artinya. Langsung kesempatan ini saya pergunakan untuk berdoa di rumah-Nya agar mendapat suami yang mampu 'menafkahi'. Alhamdulillah, sesuatu. Ketip-ketip.

Begitulah, lepas sholat zuhur saya terlibat banyak pembicaraan mengenai rukun nikah. Kebetulan ibu Mien fasih berbahasa Arab, maka kesempatan tidak saya sia-siakan untuk bertanya tentang Nafkah tersebut dalam Islam. Kenapa sih saya matre banget membahas masalah nafkah? Kalau sudah cinta tokh susah senang ditanggung bersama? Ingat lagu dangdut "percuma saja berlayar kalau kau takut gelombang..nananana, dst".

Baik, saya seling dulu dengan menjawab pertanyaan itu. Kenapa saya matre? Begini, ilmu sewaktu saling mencinta terkadang absurd. Ada tapi tak nyata. Kita tahu tapi tak mau tahu. Permasalahan muncul saat hasil cinta, buah hati dan peran sosialisasi dan kewajiban lain yang harus dipenuhi sejalan dengan tujuan tidak saling menzalimi. Bagaimana kita bisa bercinta sedang kewajiban utama mendidik anak misalnya terkendala dengan kemiskinan, bukankan mengentaskan anak menjadi sholeh/ sholeha menjadi kewajiban kepada sang khalik? Bila sampai terlantar, bukankah itu menzalimi buah hati sendiri? Oleh sebab itu, mari kita nyanyi lagi (lho), "sebelum terlanjur, pikir-pikirlah dulu...sebelum engkau menyesal kemudian...naninuninaninu..dst."

Ibu Mien mengulas pendapat singkatnya tentang nafkah dari empat mazhab terkemuka, yaitu :

a. Madzhab Maliki

Nafkah ini wajib diberikan kepada istri yang tidak nusuz. Jika suami ada atau masih hidup tetapi dia tidak ada ditempat atau sedang bepergian suami tetap wajib mengeluarkan nafkah untuk istrinya.

b. Madzhab Hanafi

Pendapat Imam Hanafi menyebutkan bahwa nafkah wajib diberikan kepada istri yang tidak nusuz. Tetapi jika suami masih hidup dia tidak berada ditempat maka suami tidak wajib memberikan nafkah kepada istri.

c. Madzhab Syafi'i

Menurut Imam Syafi'i hak istri sebagai kewajiban suami kepada istrinya adalah membayar nafkah. Nafkah tersebut meliputi, pangan, sandang, dan tempat tinggal. Mengenai ukuran nafkah yang wajib diberikan kepada istri berdasarkan kemampuan masing-masing. Adapun perinciannya yakni jika suami orang mampu maka nafkah yang wajib dikeluarkan setiap hari adalah 2 mud (saya misalkan 100 ribu/hari untuk yang mampu), menengah 1 ½ mud (75 ribu/hari), dan jika suami orang susah adalah 1 mud (50 ribu/hari). Nafkah tersebut wajib diberikan kepada istri yang tidak nusuz selama suami ada dan merdeka. Merdeka ini artinya waspada untuk menjauhi kejahatan supaya tidak di penjara. Kecuali mau lari dari tanggung jawab, masuk penjara saja. Heheu (just kiding).

d. Madzhab Hambali

Menurut Hambali suami wajib membayar atau memenuhi nafkah terhadap istrinya jika pertama istri tersebut sudah dewasa dan sudah dikumpuli oleh suami, kedua, istri (wanita) menyerahkan diri sepenuhnya kepada suaminya. Nafkah yang wajib dipenuhi oleh suami meliputi makanan, pakaian, dan tepat tinggal. Memberikan makanan ini wajib, setiap harinya yaitu dimulai sejak terbitnya matahari. Sedangkan mengenai nafkah yang berwujud pakaian, dll., itu disesuaikan dengan kondisi perekonomian suami, untuk tempat tinggal kewajiban disesuaikan menurut kondisi suami.

Lantas ingatan saya melayang ke tetangga saya, mpok Ipeh. Saya pernah lihat kehidupannya yang mengandalkan cinta nafsu tanpa mempelajari tujuan pernikahan tampak kusam. Sejak jam 3 pagi bekerja, suami tidur, tak ada rokok di bentak. Pulang malam, suami selingkuh. Duh, komplit banget derita hidupnya.

Oleh karena itu sahabat tercinta, nafkahilah isteri untuk memuliakannya. Besar kecilnya tertu tergantung kemampuan. Insyaallah kita menjadi umat yang selalu mendapat ridha dan rahmat-Nya. Aamiin.

(Ilustrasi: Internet)

Jumat, 05 Oktober 2012

Pertahankan Pancasila Tetap sakti

Ada kejadian yang memprihatinkan jelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Tawuran pelajar sampai mengakibatkan nyawa melayang, dari pelajar SMA sampai pelajar SD. Sepertinya alasan tak berpendidikan dan tidak mendapat pendidikan sepadan dari orang tua yang sibuk, atau sekolah tak perduli menjadi alasan klise. Hampir setiap rumah, terutama di ibukota Jakarta memiliki televisi. Banyak ilmu yang bisa ditimba dari media satu ini. Informasi dan kepekaan terhadap rasa berbangsa dan bertanah air.

Lantas apa yang terjadi dengan tawuran yang marak belakangan ini? Di mana rasa setia kawan? Di mana rasa menjalankan kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi, di mana rasa saling menghormati? Di mana rasa persatuan sebangsa? Dan sebagainya muncul di benak kita tentunya. Apakah tidak ada lagi bincang hangat keluarga saat beranjangsana dengan anak-anak? Apa tak sempat lagi ibu mendampingi belajar anak-anaknya atau minimal anak-anak mempunyai segan bertindak brutal sebab nasihat orang tua yang terngiang? Lalu, jelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila, saya mulai menghubungkan permasalahan anak bangsa ke sini.

Ya, kenapa diperingati Hari Kesaktian Pancasila? Apakah Pancasila itu benar-benar sakti? Pertanyaan itu menggelitik pikiran saya tepat ketika Team Editor meminta saya mengetengahkan tulisan tentang Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober.

Seingat saya saat di sekolah dasar dulu, hari ini akan ada kegiatan kunjungan ke Taman Makam Kalibata, saat itu saya paling gembira karena keluar dari lingkungan sekolah yang menjemukan. Biasanya siswa diminta untuk menuliskan hasil kunjunganya tersebut esok harinya. Mulailah kita mencari koran yang memuat berita tentang Hari Kesaktian Pancasila. Lengkap dengan gambar-gambar yang kemudian direkatkan pada buku gambar. Begitu berbeda dengan jaman sekarang yang tinggal klik Google lantas muncul ragam tulisan tentang sejarah sampai dengan perkembangannyatentang Kesaktian Pancasila sampai sekarang. Contohnya saya, beberapa kutipan tentang muasal Pancasila terpaksa menelusuri Google agar yakin dengan apa yang tersangkut dalam ingatan.

Penggalan catatan dan pandangan saya tentang Pancasila akan saya rangkum singkat. Mencoba mengetuk hati orang tua dan anak bangsa untuk mengingat kembali perjalanan Pancasila. Semoga yang berikut ini bisa bermanfaat.


Pada era "Demokrasi Terpimpin", kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan masalah-masalahpolitis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, foreign reserves menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer menjadi wabah.

Tahun 1965, tepatnya tanggal 30 September negara dikejutkan dengan adanya pembunuhan 6 jenderal. Jenderal-jederal tersebut adalah:
- Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)
- Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)
- Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan)
- Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)
- Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)
- Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)
- Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan beliau, Lettu CZI Pierre Andreas Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.

Selain itu beberapa orang lainnya juga turut menjadi korban:
- Bripka Karel Satsuit Tubun (Pengawal kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr.J. Leimena)
- Kolonel Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)
- Letkol Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)

Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang Buaya. Mayat mereka ditemukan pada 3 Oktober.

Pemberontakan ini merupakan wujud usaha mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis. Hari itu, enam Jendral dan berberapa orang lainnya dibunuh sebagai upaya kudeta. Namun berkat kesadaran untuk mempertahankan Pancasila maka upaya tersebut mengalami kegagalan. Maka 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September G30S-PKI dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila, memperingati bahwa dasar Indonesia, Pancasila, adalah sakti, tak tergantikan.


Arti dari Pancasila

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sansekerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
(1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
(3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
(6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
(7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
(1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakansuku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
(3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
(4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
(5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
(6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
(7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
(8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
(9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
(10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

3. Persatuan Indonesia
(1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
(2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
(3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
(4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
(5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
(6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
(7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
(1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
(2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
(3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
(4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
(5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
(6) Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
(7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
(8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
(9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
(10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
(1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
(2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
(3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
(4) Menghormati hak orang lain.
(5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
(6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
(7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
(8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
(9) Suka bekerja keras.
(10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
(11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.


Lantas, bagaimana dengan penerapannya ke pelajar masa kini. Jelang peringatan G30SPKI semakin banyak tawuran yang mengakibatkan kematian? Apakah yang salah dari pemahaman Pancasila kita? Mari kita renungkan dan coba mengkaji kembali arti dan maksud Pancasila seperti uraian di atas tadi.

Kalau menelusuri keanggotaan PKI yang semakin luas, nyaris 3,5 juta di luar sana, keadaan yang terlihat berpegang di luar dari isi Pancasila, apakah tak selayaknya kita saling mengingatkan tentang isi Pancasila dan tak bosan mendengungkan kepada generasi muda tentang pentingnya pemahaman Pancasila itu sendiri?

Kita wujudkan Kesaktian Pancasila dari kepekaan diri, manakah hal-hal yang tak layak harus dihindari. Sikap keluar dari isi Pancasila harus segera diwaspadai. Alih-alih lena dengan perkembangan jaman, tak ada lagi Pancasila lekat di hati. Mari kita jalani Pancasila sesuai sendi yang terkandung di dalamnya. Bila mulai menyimpang, pertanda perketat kewaspadaan. Terutama pengarahan kepada generasi muda sekarang. Wujudkan Kesaktian Pancasila dengan mempertahankannya.

Jika pengorbanan tujuh pahlawan menjadi contoh kongkrit selamatnya Pancasila. Sudah menjadi kewajiban kita memeliharanya. Biarkan Pancasila tetap sakti.

Selamat Hari Kesaktian Pancasila.



Disarikan dari berbagai sumber.
Ilustrasi Internet.

Flame Antargender


Ternyata selama ini lelaki dianggap makhluk yang mendengar tapi tak pernah menyimak. Anda tahu beda dan sebabnya?

Dari sebuah artikel lama di BBC News, saya baru tahu para pria ternyata mempunyai masalah dengan kemampuan menyimak. That’s why men hear but not listen. Penyebabnya, menurut para ahli, pria memroses suara yang masuk ke telinganya hanya dengan otak kiri, yang berhubungan dengan kemampuan berbahasa. Sedangkan wanita menggunakan otak kiri dan kanan sekaligus.

Itulah sebabnya, kita sering melihat kaum hawa sanggup ngerumpi ketika bertemu teman-temannya, sementara kaum adam tidak memahami satu pun topik yang tengah mereka bicarakan. Para pria memang mendengar kata-kata yang berseliweran di telinganya, tapi nggak ngeh. Begitu mereka ditanya, “Ngerti nggak?”, mereka pasti menggelengkan kepala.

Kadang saya juga sering heran, kok bisa-bisanya perempuan itu ngobrol ngalor-ngidul tidak keruan, tapi kok ya tetep tidak ada satu pun yang terlewat. Padahal saya saja tidak mampu menangkap satu pun yang mereka obrolkan. Ehm, anda mungkin merasa begitu juga? Saya bukan sedang menyulut flame antargender, melainkan hanya hendak menyampaikan bahwa pria dan wanita itu memang berbeda. Ini bukan soal lebih baik dan lebih buruk. Ini tentang perbedaan. Itu saja.

Untuk para pria, tidak usah kecewa atau minder kalau tidak mampu menyimak kata-kata pasangan anda. Untuk para perempuan, ibu-ibu, dan mbak-mbak, tolong dimaklumi bahwa kami-kami ini, para bapak, mas-mas, atau om-om ini punya kemampuan berbeda dalam mendengarkan.

Anda tidak usah cemberut atau marah dulu ya. Mari kita nikmati saja fitrah kita masing-masing, baik sebagai laki-laki maupun perempuan.
Siapa tahu hidup jadi lebih indah dengan cara itu.

Antara Pekerjaan dan Penghasilan


"Antara pekerjaan dan penghasilan, mana yang lebih Anda utamakan?"

Pertanyaan yang simple ini memang susah dijawab. Saya sendiri tidak pernah bisa menjawabnya secara langsung dan gamblang karena ada berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal yang akan mempengaruhi pendapat saya. Yang pastinya akan sangat berbeda sekali dengan pendapat pembaca sahabat Dunia Aksara sekalian.

Orang idealis akan mengatakan bahwa yang penting baginya adalah "pekerjaan." Karena pekerjaan dapat meningkatkan martabat dan status sosial seseorang. Memang betul, tapi di zaman seperti ini orang idealis sering kali berubah menjadi kapitalis. Terutama kalau mereka merasa tanggung jawab pekerjaan dan penghasilan yang didapatnya tidak sesuai. Atau jika penghasilan yang didapat tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup dan atau jika penghasilan yang diperoleh dirasa tidak mencukupi dll.

Pernah dengar istilah "posisi" menunjang "prestasi?" Istilah itu berlaku pada masa dulu, karena dengan berkembangnya zaman maka istilah itu ikut berubah, menjadi "posisi" menunjang kemungkinan untuk "korupsi." Dalam teori probabilitas nilai yang 0,0000 sekian persen tetap saja terhitung sebagai nilai kemungkinan. Jadi intinya dalam hidup ini selalu ada kemungkinan.

Seorang yang realistis pasti akan cenderung memilih penghasilan. Memang betul, dalam hidup ini ''money is not everything!'' Tetapi pada kenyataannya ''everything needs money!'' Apa artinya kerja keras membanting tulang kalau penghasilannya tidak seperti yang diharapkan? Dan juga apa artinya penghasilan yang besar kalau pekerjaannya tidak sesuai dengan yang diinginkan? Nah lho.....! Bingung kan?

Penghasilan bukan hanya berupa besar dan kecilnya pendapatan. Tapi juga asal dan cara penghasilan itu didapatkan. Kalau pekerjaan itu tanggung jawabnya pada sesama manusia, tapi penghasilan tanggung jawabnya pada Tuhan masalahnya bukan lagi pada besar kecilnya saja tapi juga pada hukum haram-halalnya. Rumit ya?

Jadi bagaimana caranya menjadi seorang idealis yang realistis tanpa melanggar hukum agama dan norma-norma kemasyarakatan? Simplenya, bagaimana caranya mempunyai pekerjaan yang diharapkan dengan penghasilan yang diinginkan tanpa melakukan kejahatan sosial?
Jika dihadapkan pada pilihan antara pekerjaan dan penghasilan, kira-kira apa pilihan Anda?


Sumber dan Ilustrasi Internet

MANUSIA DAN BENCANA

Manusia dan bencana adalah sahabat sejati yang tidak sehati. Manusia ingin selalu bebas dari bencana, namun bencana dengan setia selalu mengikuti kemana pun manusia melangkah. Sementara takdir adalah penengahnya, pengawas perjalanan hidup yang senantiasa tanpa kenal jera melimpahkan kesenangan dan kesedihan dalam hidup manusia. Lalu apa fungsinya Doa dan Usaha? Hanya Tuhan yang maha tahu.



Bencana gempa bumi dan Tsunami yang sering melanda dunia merupakan sebuah pelajaran yang berharga untuk dikaji dan dianalisa. Apa kurangnya dengan teknologi di jaman sekarang yang serba canggih dan modern? Dewasa ini hampir seluruh pembangunan gedung-gedung dan semua property dibangun dengan teknologi 'Gempa Friendly' alias tahan gempa. Namun begitu Tsunami melanda? Tetap saja kecolongan. Ini adalah bukti bahwa manusia berusaha, Tuhan yang menentukan.

Ada sebuah kisah tentang seorang pengendara yang melenggang di atas jalan raya dengan sebuah skuter lengkap dengan helm dan jas hujan. Jalan padat lalulintas terlewati dengan sempurna, namun ketika melintas di sebuah jalan sepi di bawah tebing curam, tiba-tiba sebuah kayu roboh meluncur jatuh dan menimpa kepala sang pengendara, siapa yang bisa menduga? Helm di rekayasa untuk melindungi kepala dari benturan jika terjadi kecelakaan. Tapi tidak dapat berbuat apa-apa jika terbentur oleh batang besar sebuah kayu lapuk. Sekali lagi, manusia berusaha, Tuhan yang menentukan.

Bencana akan selalu menyapa manusia. Hanya saja tidak tahu kapan, mengapa dan bagaimana. Manusia dan bencana adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Bencana adalah sebuah evaluasi hidup. Evaluasi dalam arti sebagai alasan untuk intropeksi diri. Bahwa betapa pun kuat, cerdas, dan di mana pun kita berada bencana akan pasti menyapa.

Jadi marilah sahabat Dunia Aksara semuanya, di mana saja berada sama-sama berwaspada. Ingat pada-Nya, jangan lupa berusaha disertai doa.

Semoga bermanfaat.