Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juli 2015

Kisah Nyata: Haruskah Pernikahan Didasari Rasa Cinta?


Seorang akhwat menceritakan kenangan masa lalunya yang tak terlupakan:

“Namaku Mariani, orang-orang biasa memangilku Aryani. Ini adalah kisah perjalanan hidupku yang hingga hari ini masih belum lengkang dalam benakku. Sebuah kisah yang nyaris membuatku menyesal seumur hidup bila aku sendiri saat itu tidak berani mengambil sikap. Yah, sebuah perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri takjub dibuatnya, sebab aku sendiri menyangka bahwa di dunia ini mungkin tak ada lagi orang seperti dia.

Tahun 2007 silam, aku dipaksa orang tuaku menikah dengan seorang pria, Kak Arfan namanya. Kak Arfan adalah seorang lelaki yang tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting dengan kakakku saat sekolah dulu. Usia kami terpaut 4 Tahun. Yang aku tahu bahwa sejak kecilnya Kak Arfan adalah anak yang taat kepada orang tuanya dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang seperti itu terbawa-bawa sampai ia dewasa. Aku merasa risih sendiri dengan Kak Arfan apabila berpapasan dijalan, sebab sopan santunya sepertinya terlalu berlebihan pada orang-orang. Geli aku menyaksikannya, yah, kampungan banget gelagatnya…,

Setiap ada acara-acara ramai di kampung pun Kak Arfan tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya. Yaah, pasti kalau dicek ke rumahnya pun gak ada, orang tuanya pasti menjawab “Kak Arfan di mesjid nak, menghadiri taklim”. Dan memang mudah sekali mencari Kak Arfan, sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat Kota Gorontalo.

Kak Arfan sering menghabiskan waktunya membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya di kebun atau di sawah. Meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan. Secara fisik memang Kak Arfan hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Sebab kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau Kak Arfan dalam keadaan rapi menghadiri acara-acara di desa.

Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang biasa-biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok Kak Arfan adalah sosok yang tidak istimewa. Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan kampunga banget. Kadang hatiku sendiri bertanya, koq bisa yah, ada orang yang sekolah di kota namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada. Selain bantu orang tua, pasti kerjanya ngaji, sholat, taklim dan kembali ke kerja lagi. Seolah riang lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja, ke biosokop kek, ngumpul bareng teman-teman kek stiap malam minggunya di pertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam kamisnya. Apalagi setiap malam kamis dan malam minggunya ada acara curhat kisah yang TOP banget disebuah station Radio Swasta digotontalo, kalau tidak salah ingat nama acaranya Suara Hati dan nama penyiarnya juga Satrio Herlambang.

Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas dengan kata Pacaran, akupun demikian. Aku sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya Boby. Masa-masa indah kulewati bersama Boby. Indah kurasakan dunia remajaku saat itu. Kedua orang tua Boby sangat menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya atas hubungan kami. Hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat aku kenal. Yah siapa lagi kalau bukan si kuper Kak Arfan lewat pamanku. Orang tuanya Kak Arfan melamarku untuk anaknya yang kampungan itu.

Mendengar penuturan mama saat memberitahu padaku tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini gelap, kepalaku pening…, aku berteriak sekencang-kencangnya menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit aku sampaikan langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku menolak lamaran keluarganya Kak Arfan. dan dengan terang-terangan pula aku sampaikan pula bahwa aku memiliki kekasih pujaan hatiku, Boby.

Mendengar semua itu ibuku shock dan jatuh tersungkur kelantai. Akupun tak menduga kalau sikapku yang egois itu akan membuat mama shock. Baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama shok itu karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tuanya Kak Arfan. Hatiku sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu. Aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasih hatiku Boby.

Hatiku sedih saat itu. Dengan berat hati dan penuh kesedihan aku menerima lamaran Kak Arfan untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam terakhir perjumapaanku dengan Boby di rumahku untuk meluapkan kesedihanku. Meskipun kami saling mencintai, tapi mau tidak mau Boby harus merelakan aku menikah dengan Kak Arfan. Karena dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu.

Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya pernikahanku pun digelar. Aku merasa bahwa pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku. Air mataku tumpah di malam resepsi pernikahan itu. Di tengah senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa. Karena harus melepaskan masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai. Dan yang paling membuatku tak bias menahan air mataku, mantan kekasihku boby hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut. Ya Allah mengapa semua ini harus terjadi padaku ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini?

Waktu terus berputar dan malam pun semakin merayap. Hingga usailah acara resepsi pernikahan kami. Satu per satu para undangan pamit pulang hingga sepi lah rumah kami. Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak mendapati suamiku Kak Arfan di dalamnya. Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya, maka aku pun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku. Aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu. Karena rasa capek dan diserang kantuk, aku pun akhirnya tertidur.

Tiba-tiba di sepertiga malam, aku tersentak tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurku. Dadaku berdegup kencang. Aku hampir saja berteriak histeris, andai saja saat itu tak kudengar serua takbir terucap lirih dari sosok yang berdiri itu. Perlahan kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri di sampingku itu adalah Kak Arfan suamiku yang sedang sholat tahajud. Perlahan aku baringkan tubuhku sambil membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu sedang sholat tahajud. Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya Kak Arfan. Tapi meskipun demikian, aku masih tak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku. Saat itu karena masih dibawah perasan ngantuk, aku pun kembali teridur. Hingga pukul 04.00 dini hari, kudapati suamiku sedang tidur beralaskan sajadah dibawah ranjang pengantin kami.

Dadaku kembali berdetak kencang kala mendapatinya. Aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami. Tapi ada sebuah pertanyaaan terbetik dalam benakku. Mengapa dia tidak tidur di ranjang bersamaku. Kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang denganku itukan logikanya. Ada apa ini? ujarku perlahan dalam hati. Aku sendiri merasa bahwa mungkin malam itu Kak Arfan kecapekan sama sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi apa peduliku dengan itu semua, toh akupun tidak menginginkannya, gumamku dalam hati.

Hari-hari terus berlalu. Kami pun mejalani aktifitas kami masing-masing, Kak
Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suamiku. Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merindukannya.

Semula kufikir bahwa prilaku Kak Arfan yang tidak pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan kami. Tapi ternyata yang terjadi hampir setiap malam sejak malam pengantin itu, Kak Arfan selalu tidur beralaskan permadani di bawah ranjang atau tidur di atas sofa dalam kamar kami. Dia tidak pernah menyentuhku walau hanya menjabat tanganku. Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya. Secara lahir dia selalu mafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku butuhan. Tapi soal biologis, Kak Arfan tak pernah sama sekali mengungkit- ungukitnya atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah kufahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan di depan pintu kamar, Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah menyetuhku.

Ada apa dengan Kak Arfan? Apakah dia lelaki normal? kenapa dia begitu dingin padaku? apakah aku kurang di matanya? atau? pendengar, jujur merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Ada apa dengan suamiku? bukankah dia adalah pria yang beragama dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan batin adalah kewajibannya? ada apa dengannya? padahal setiap hari dia mengisi acara-acara keagamaan di mesjid. Dia begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada kedua orangtuanya. Bahkan terhadap aku pun hampir semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali pun dia bersikap kasar dan berkata-kata keras padaku. Bahkan Kak Arfan terlalu lembut bagiku.

Tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah batinku. Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku perlahan-lahan melupakan masa laluku bersama Boby. Aku bahkan mulai merindukannya tatkala dia sedang tidak dirumah. Aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i.

Memang dua hari setelah pernikahan kami, Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton besar. Semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah kubuka, ternyata isinya lima potong jubah panjang berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai selutut juga berwana gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarnah hitam dan lima pasang manset berwarna gelap pula. Jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekuensi menikah dengan seorang ustadz. Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya. Ternyata dugaanku salah sama sekali. Sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyakannya.

Kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan siapapun. Kukenakan busana itu agar diatahu bahwa aku mulai menganggapnya istimewa. Bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai aku ikuti. Kadang ceramah-ceramahnya di mesjid sering aku ikuti dan aku praktekan di rumah.

Tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya. Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku. Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan permadani dibawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam, lalu melaksanakan sholat tahajud. Hingga suatu saat Kak Arfan jatuh sakit. Tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi. Aku sendiri bingung bagaimana cara menanganinya. Sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku. Aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah..

Malam itu aku tidur dalam kegelisahan. Aku tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak. Kudengar Kak Arfan pun sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disetai angin yang bertiup kencang. Kasihan Kak Arfan, pasti dia sangat kedinginan saat ini. Perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas. Kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur kekakinya. Ingin sekali aku merebahkan diriku di sampingnya atau sekedar mengompresnya. Tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya. Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku di dahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya.

Tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar ”Afwan dek, kau belum tidur? kenapa ada di bawah? nanti kau kedinginan? ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta kak Arfan padaku. Hatiku miris saat mendengar semua itu. Dadaku sesak, mengapa Kak Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku orang lain. Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali untukku. Tanpa kusadari air mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kulapkan dengan teriakan. Hingga akhirnya gemuruh di hatiku tak bisa kubendung juga.

”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? kau bahkan tak
pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? bukankah aku ini istrimu? bukankah aku telah halal buatmu? lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? apa artinya diriku bagimu kak? apa artinya aku bagimu kak? kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.

Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel di dinding kamar kami. Hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku:

”Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu. Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri. Apakah saat ini telah ada cinta di hatimu untuk kakak? kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kaka selama ini begitu dingin padamu. Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakk kabarkan padamu malam ini. Kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini?” ujar Kak Arfan dengan agak sedikit gugup.

“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan ini pada saya? tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.

“Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur? dan apa pekerjaan seorang pelacur? afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak. Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek.

Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka. Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu. Tapi begitu kakak berada di depan pintu pagar rumahmu, kaka melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah mermpas kebahagiaanmu.

Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu. Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak?

Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu. Agar kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kaka. Kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syar’i. Pinta kakak padamu dek, luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata. Maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk Allah ta’ala selanjutnya untuk kakak.”

Mendengar semua itu, aku memeluk suamiku. Aku merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku. Aku bahkan telah melupakan Boby. Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia. Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak Arfan mendatangiku sebagai seorang suami. Hari-hari kami lalui dengan bahagia. Kak arfan begitu sangat kharismatik. Terkadang dia seperti seorang kakak buatku dan terkadang seperti orang tua. Darinya aku banyak belajar banyak hal. Perlahan aku mulai meluruskan niatku dengan menggunakan busana yang syar’i, semata-mata karena Allah dan untuk menyenangkan hati suamiku.

Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua. Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama. Hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan. Ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan. Dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangannya. Aku fikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta kami berdua

Di akhir tahun 2008, Kak Arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang. Sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut. Aku sangat kehilangannya. Aku seperti kehilangan penopang hidupku. Aku kehilangan kekasihku. Aku kehilangan murobbiku, aku kehilangan suamiku. Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir kehidupannya Kak Arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku:

“Dek.. pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga Abdurrahman dengan baik. Jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat. Didik dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan dia.

Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu. Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.

Maafkan kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu. Senantiasalah berdoa.., kalau kita berpisah di dunia ini..Insya Allah kita akan berjumpa kembali di akhirat kelak . Kalau Allah mentakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya Allah kakak akan senantiasa menantimu..”

Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan harinya Kak Arfan
meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan. Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin. Wasallam”

Senin, 27 Juli 2015

Kisah Nyata Seseorang Yang Selalu Beruntung Karena Sholat Dhuha


Kisah Nyata Seseorang Yang Selalu Beruntung Karena Sholat Dhuha - Ini adalah kisah nyata seseorang yang selalu mendapat keberuntungan dari manfaat menjalankan sholat Dhuha. Sholat Dhuha merupakan amalan sholat sunnah yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang ingin agar hajatnya terkabul atau ingin keluar dari kesusahan dan selalu mendapatkan keberuntungan dari Allah SWT. Keajaiban sholat dhuha, manfaat sholat dhuha, khasiat sholat dhuha memang benar-benar terbukti. Simak kisah selengkapnya berikut ini.

Kisah ini diceritakan oleh seseorang bernama Muhamad Ihsan. Salah satu dari 7 sunnah harian Rasulullah SAW adalah shalat Dhuha. Dan inilah amalan yang saya lakukan semenjak saya masuk SMK (SMA). Berawal dari nasehat ibu yang mengatakan “san … mulai sekarang, rajinin shalat-shalat sunnah seperti dhuha, tahajud, hajat, istikharah, dll … kalo dari sekarang ihsan sudah males gimana nanti kalo sudah punya istri dan anak”.

Berangkat dari nasehat ibu, saya mulai melakukannya dari kelas 1 SMK. Setiap jam istirahat yang kebetulan sudah masuk waktu dhuha, saya shalat di mushalla sekolah, kadang makan dulu dikantin baru shalat, kadang sebaliknya.

Karena tidak enak kalo shalat sendirian akhirnya saya mulai ngajak beberapa temen kelas untuk shalat dhuha, Alhamdulillah pada nolak. Akhirnya ada juga satu dua orang yang ikut. Karena kita semua masih dalam tahap belajar rutinin shalat dhuha, tidak jarang juga kami keasyikan jajan dan ngobrol akhirnya waktu istirahatnya selesai yang mengakibatkan kita tidak dhuhaan pada hari itu.

Dan alhamdulilah mulai banyak temen yang shalat dhuha, tidak dari temen kelas, namun ada juga dari kelas lain. Apalagi kalo lagi ada ujian mata pelajaran tertentu, wudhu pun sampai ngantri. Ketika saya kelas 3 semester dua, saya mendapat info bahwa ada beasiswa dari Yayasan Beasiswa Jakarta. Saya mengajukan bersama ketiga temen kelas saya, Alhamdulillah semua dokumen dan syarat yang diperlukan dapat saya dan teman-teman penuhi.

Pengumuman pun tiba, tanpa disangka-sangka kami berempat menerima beasiswa tersebut, padahal kami mendapat kabar bahwa di kelas lain yang mengajukan beberapa orang namun hanya 1-2 orang yang dapat. Dan uang tunai senilai Rp 1.200.000,- kami terima per siswa. Dan inilah awal dari keberkahan shalat dhuha yang saya dapatkan. Alm. Ayah menginginkan saya untuk melanjutkan studi kejenjang perkuliahan, dan akhirnya setelah proses panjang, akhirnya saya kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Asuransi Syariah.

Belum genap sebulan saya kuliah, Ayah saya wafat. Alhamdulillah impiannya sudah tercapai yaitu melihat saya bisa kuliah. Dan semenjak Ayah wafat, ibulah yang membiayai kuliah saya dari hasil berdagang nasi uduk setiap pagi didepan rumah.

Allah selalu punya rahasia yang sangat teristimewa bagi setiap hamba-Nya. Semingggu setelah Alm. Ayah wafat saya mendapatkan Bantuan Khusus Mahasiswa (BKM) dari universitas senilai Rp 5.000.000,-. Inilah “reward” pertama saya di kampus dari Allah karena Shalat Dhuha.

Beberapa atm dan buku rekening beasiswa yang saya dapatkan tak berhenti disitu, Alhamdulillah hampir setiap semester saya mendapatkan beasiswa dari DIPA, BAZIS, Yayasan Beasiswa Jakarta, dll. Kalau ditanya sudah berapa kali saya mendapat beasiswa, saya lupa karena saking bayaknya, tapi saya juga pernah ditolak sama Yayasan Beasiswa Jakarta ketika saya mengajukan di semester 5, namun ketika semester 7 akhirnya dapat. Ada saja jalan dari-Nya sehingga saya bisa mendapatkan beasiswa tersebut.

Baginda Rasulullah SAW bersabda; “pada setiap manusia diciptakan 360 persendian dan seharusnya orang yang bersangkutan (pemilik sendi) bersedekah untuk setiap sendinya”. Lalu para sahabat bertanya; “Ya Rasulullah saw siapa yang sanggup melakukannya?”. Rasulullah saw menjelaskan “membersihkan kotoran yang ada di masjid atau menyingkirkan segala sesuatu (yang dapat merugikan orang lain) dari jalan raya, apabila ia tidak mampu maka shalat dhuha dua rakaat , dapat menggantinya”. (HR. Ahmad bin Hambal dan Abu Daud).

Penjelasan tentang hadits ini subhanallah ternyata memang benar adanya. Alhamdulillah setelah melakukan shalat dhuha badan terasa segar, seperti orang yang sering melakukan olahraga pagi setiap harinya. Karena saya termasuk orang yang jarang melakukan olahraga pagi dikarenakan setiap paginya saya harus membantu ibu berdagang nasi uduk didepan rumah, jadi sebelum saya beraktifitas keluar rumah saya shalat dhuha minimal 2 rakaat jika sedang terburu-buru, dan 8-12 rakaat jika sempat.

Jadi bagi orang-orang yang tidak sempat melakukan olahraga pagi, cukup shalat dhuha 2-12 rakaat setiap harinya. Dan saya juga pernah bertanya kepada seorang ulama sepuh yang mempunyai yayasan di desa tersebut ketika saya KKN (Kuliah Kerja Nyata) didesa Cibitung, Bogor bulan Juni-Juli lalu.

“Pa … amalan apa yang membuat bapak walaupun sudah sepuh begini tapi pendengaran dan penglihatannya masih sangat bagus, bahkan bapak masih kuat mencangkul di sawah setiap hari ?”. Bapak ini menjawab “rajinin shalat malam dan dhuha”. Lain lagi seorang nenek yang saya jumpai juga masih di desa tersebut, dan nenek ini pun pendengaran, penglihatannya bahkan ingatannya juga masih sangat bagus ketika menceritakan kisah hidupnya sampai beliau bisa tinggal di desa tersebut.

“Nek … umur nenek berapa nek? Kok nenek masih inget semuanya (kisah hidup) dah?” nenek ini menjawab, “umur nenek sudah ratusan … sejak nenek masih muda nenek sering puasa sunnah (senin kamis) dan shalat dhuha.”

Dalam hadits qudsi, Rasulullah saw bersabda, Allah SWT berfirman “wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas melakukan shalat empat rakaat di pagi hari, yaitu shalat dhuha, niscaya nanti akan kucukupi kebutuhanmu hingga sore harinya.” (HR. Al-Hakim dan At-Tabrani).

Dan cerita bagaimana saya mendapatkan beasiswa sejak saya kelas 3 SMK sampai sekarang insyaAllah sudah bisa menjawab hadits ini. Dan ternyata shalat dhuha membawa pengaruh positif terhadap penurunan stress. Apabila shalat dhuha dilaksanakan dengan ikhlas, dapat memperbaiki emotional positif, yang dari sisi medis jika kita jalankan secara terus menerus, tepat gerakannya, khusyu, dan ikhlas dapat memelihara immunitas tubuh yang baik dapat membuat individu terhindar dari infeksi, resiko terkena berbagai penyakit.

“Bagi yang sudah shalat dhuha namun belum mendapatkan “reward” dari Allah, sabar dulu … Allah aja sabar nunggu kita shalat dhuha. Kalo Anda memperhatikan saya mulai shalat dhuha dari kelas 1 SMK, Alhamdulillah berbagai macam “reward” baru saya dapatkan ketika saya kelas 3 SMK, berarti butuh 2 tahun.

Yuk shalat dhuha dan rasakan “taste” nya yang menakjubkan” kata Muhamad Ihsan seperti dikutip Serunik.com.

Semoga kisah nyata keajaiban sholat Dhuha dari Muhamad Ihsan diatas bermanfaat untuk Anda yang ingin sukses dalam hidup ini. Amin.

Kamis, 20 Desember 2012

KISAH NYATA:...JERITAN HATI,SEORANG SUAMI....


Aku mengutuk dan terus menyalahkan diriku, kenapa bisa??

“ Dasar wanita gak tau diri, gak tau di untung, wanita macam apakah istriku ini” Teriakku yang masih tidak percaya akan kelakuan bejat istriku kala aku tidak ada dirumah.

Aku mengakui diriku bukan lelaki normal, semenjak kecelakaan maut itu yang menewaskan kedua rekan kerja dan kini menjadikan aku lelaki cacat yang impoten, aku lelaki yang telah divonis akan terlalu sulit untuk memiliki keturunan. Dan engkau Dewi ( bukan nama sebenarnya) datang bagai bidadari yang turun dari surga, karena engkau mau aku peristri walaupun sesungguhnya ada banyak kendala yang akan kita hadapi.

Tetapi aku lihat ketulusan airmata di pipi seolah engkau dan berjanji akan menerimaku apa adanya diriku, hingga amanah almarhum orang tuaku aku terjang untuk meninggalkan agamaku, ya aku aku bukan seorang muslim, namun demi Dewi aku korbankan Agamaku. Disaat itu matakupun tertutup akan paras manis wajahmu dan airmata ketulusan, padahal waktu itu engkau berstatus istri orang dengan satu anak, namun engkau mengatakan padaku

“ David, aku akan segera mengurus surat perceraian, aku sudah tidak ada kecocokan dengan suamiku yang hasilnya pas pas. Maukah kau memeluk agamaku, dan menerima anakku sebagai anakmu juga?” itu katamu yang masih ku ingat

“ Ya, sayang aku akan segera menikahimu dan bersyahadat setelah surat perceraian itu keluar, aku sebagai pegawai negeri akan mengurus semua berkas berkas untuk memasukkan Rendra di akteku sebagai anakku, biar nanti dapat juga tunjangan dari kantor” kataku pada Dewi yang berniat menuju mahligai perkawinan.

Hari yang aku nantipun tiba, dengan acara sederhana , aku resmi memeluk agama Islam dan menikahi Dewi. Aku teramat bahagia apalagi istriku pandai juga membantu mencari uang dan tiada henti hentinya mengajakku, terapi dan berobat tradisional.

“Alhamdulillah, ada seorang bapak dimana tmpatku terapi katanya “ Teruslah berusaha, masih ada kesempatan meskipun kecil, untuk kau memiliki keturunan” Lega hatiku dan tak berkecil hati aku terus ikhtiar dan sholat sholat sunnah tak pernah ku tinggalkan,, memohon akan kesembuhanku.

Tepat setelah 4tahun pernikahan, Alhamdulillah maha besar Allah, Istriku hamil, aku begitu menjaganya dan merawatnya. Ku larang Dewi untuk bekerja, namun istriku bersikokoh tidak mau alasannya karena ingin beraktifitas meskipun hamil.

Namun ketika kandungan menginjak usia 5bulan, musibah menimpa istri, tiba tiba dia keguguran ke tika mandi, istriku histeris dan teramat terpukul, aku mencoba memberikan kekuatan,

“Sudahlah, Ma. Kita jangan patah semangat ya? Kita berusaha terus, ikhlaskan kejadian ini, mungkin Allah masih belum percaya penuh untuk memberikan kita seorang anak lagi, kan kita sudah punya Rendra, dia udah aku anggap anak kandungku” hiburku pada istriku yang terus menangis.

Aku kembali bertugas ke luar pulau selama 3bulan, namun baru aku tinggalkan 2 bulan istriku memberi kabar dia hamil lagi, aku bahagia sekali walaupun dalam pikiranku sejenak sempat terlintas

“kenapa bisa begitu cepat hamil lagi, ah mungkin ini saatnya Allah memberiku momongan,” bisikku dalam hati.

Aku bekerja sebagai pegawai negeri yang selalu dikirim keluar pulau, disaat itulah tanpa sengaja aku berkenalan dengan seorang wanita sebut saja namanya Teresa, dia wanita yang sangat disegani di Lingkungan tempatku kerja di Luar Pulau, dari awal kenal namun entah mengapa hati ini seakan tergoda.

Teresa non muslim, aku menceritakan semua keadaan rumah tanggaku, hingga entah mengapa ketika masa dinasku habis dan akan segera pulang ke Surabaya, Teresa pingin ikut dan juga di Surabaya dia punya sanak family.

Setelah kami berdua sampai Surabaya, kami berpisah menuju tempat masing masing, setiba di rumah aku peluk istriku, dia diam aja, dan aku amati hari hari selanjutnya seolah ada bisikkan bahwa anak yang di kandung bukan darahku, aku terus seperti di hantui bisikkan itu.

“David, cobalah kamu tenangkan diri, yuk ikut aku, aku kenalkan pada Tuhanku, kamu ceritakan pada nya disana” ajak Teresa, ketika aku mengajaknya bertemu dan menceritakan keluh kesahku.

“Hay, Teresa aku ini muslim, aku mualaf, apa nanti kata beliau?” jawabku pada Teresa

“David, Beliau adalah orang penyayang, dan pastilah dia akan mengampunimu, jika kamu mau bertobat dan kembali ke agama keluargamu, kamu di kutuk karena melanggar amanah orang tuamu yang melarangmu meninggalkan keyakinan keluargamu” Jawab Teresa

Aku makin, banyak pikiran seolah syetan lebih kuat merasuki jiwaku, sholat mulai ku tinggalkan dan bayangan Dewi seakan sirnah, karena yang ada dipikiranku saat ini hanya ingin tau anak siapa di rahim istriku ini??

“Dewi, Dewi, kemarilah sebentar, papa mau ngomong” panggilku pada Dewi kala sore hari aku ingin santai ngobrol dengannya

“Ada apa pa?”Tanya Dewi

“ Duduklah,sebentar aku mau bicara”

“Anak siapa dalam kandunganmu itu” Tanya aku

“Siapa wanita itu, apa dia lonte kamu?’ aku kaget Dewi tidak marah ketika aku berkata anak siapa, dia malah terus memarahiku dan menghujatku masalah Teresa, padahal sudah aku jelaskan Teresa hanyalah seorang sahabat.

Aku semakin yakin, Dewi malah menantangku minta cerai, namun aku berusaha terus membujuknya, Setelah percekcokan itu Dewi semakin jauh, dia tak pernah mau aku dekati . Kala aku ingin bersetubuh, bagaimanapun aku lelaki juga ingin mendapat sentuhan dari istri. Tapi dewi malah memilih pisah ranjang, “jangan sentuh aku,” bentak Dewi , jika aku berusaha mencumbunya.

Tangis bayi mungil terdengar, aku bahagia, seorang bayi mungil terlahir dengan kulit putih dan gemuk, hii aku ingin menciumnya, namun lagi lagi bisikan itu datang, Dia bukan anakmu, ajak istrimu tes DNA.

Setelah kehadiran Emilia, nama anakku aku berusaha membuang pikiran itu dan berkeyakinan Emilia anakku. Aku juga mengingat tes DNA biaya juga tidak murah. Tapi apa yang diperlakukan Dewi, dia terus menuntutku minta cerai, entahlah aku juga makin tidak mengerti akan kelakuan istriku ini, sudah tak cinta dan sayang lagikah dia padaku?

Aku sebagai lelaki juga punya harga diri, aku turuti surat cerai aku proses, namun kami masih serumah dan kami masih makan bersama dan bertegur sapa, namun aku berusaha intropeksi dan mengajaknya damai, tapi Dewi tetap tidak mau, hanya cerai yang diinginkan.

Surat ceraipun sudah jadi dari kantor tinggal memasukkan ke pengadilan, namun lagi lagi ada bisikkan jangan kamu urus dulu surat itu, tapi selidiki tingkah pola macam apa istrimu, dan bersihkan dulu namamu dari cibiran orang, dimana memang istriku mengatakan pada tetangga dan saudara saudaranya perceraian ini terjadi karena aku pindah agama ke keyakinanku yang dulu, dan aku selingkuh, padahal semua itu tidak aku lakukan, aku masih muslim dan aku tidak selingkuh.

Pada hari itu mungkin inilah saatnya kebejatan itu terungkap, aku berpura pura pamitan pada istri untuk bertugas, namun sebenarnya tidak. Tepat pukul 5 sore aku lihat istriku keluar dari kantornya aku ikuti, betapa kagetnya aku ternyata dia menuju sebuah kost rumah tangga.

Aku mencoba mencari informasi, kanan kiri tempat mereka, Masyaallah banyak mereka bilang istriku telah kost disana sudah lama bersama lelaki lain yang mengaku suaminya. Aku mengeluarkan identitas diri bahwa akulah suami yang syah.

Aku menuju rumah RT, meminta izin tuk memergoki mereka, aku bagai tertusuk pisau aku lihat ada lelaki yang selama ini ternyata sahabatku yang pernah aku kenalkan pada istriku setahun yang lalu dan aku lihat ada si kecil Emilia, istrikupun kaget.

“Dewi, apa yang terjadi sesungguhnya ini?’ amarahku memuncak sambil memukul sahabatku ini

“Jangan, dia (Boby) adalah suamiku, kami telah menikah sirri setelah aku keguguran kemaren, dan Emilia memang bukan anakmu, puass” Jawab istriku

Plak plak aku tampar dia, aku hujat sampai aku bersimpuh tangis, tanpa sadar aku menyebut oh Tuhan inikah jawaban itu??

Jadi inikah wujud asli wanita yang sayangi, aku korbankan agamaku, aku kasih namaku, aku beri dia tunjangan walaupun kini aku tau mereka Emilia dan Rendra bukan anakku.

Aku bingung, surat cerai aku lanjutkan dan kini proses cerai sedang berlangsung, hanya satu yang membuat aku sekarang hilang jati diri, Islam ataukah aku yang dulu . Aku masih ingat fatwa fatwa, istriku ketika aku minta dilayani, dia menolakku dengan kasar,

“Tidak, jika kita kumpul sama aja Zinah, kamu sudah bukan muslim, “Teriak istriku, padahal sudah aku jelaskan aku masih muslim.

Kini siapa yang Zinah?? Perkawinan sirri istriku tidak syah karena tidak ada wali dari pihak istriku, dan aku sebagai suami juga tidak tau, kasus ini pernah aku ajukan ke delik pengaduan, dan ternyata ada hukumnya penjara 9bulan buat istri dan selingkuhannya, namun aku menatap Emilia dan masa depannya, karier mereka berdua akan berakhir , tapi apa yang aku dengar dan di bisikkan istriku ketelingaku, ketika aku memberitahukan kasus ini

“Okey David, silakan adukan dan penjarakan kami, tapi ingat setelah 9 bulan aku keluar aku akan membunuhmu”,itu bisik istriku

Ya Allah, wanita macam apa istri yang aku cintai ini, jujur aku masih mencintainya dan berharap kembali, namun istriku memilih meninggalkankanu dan meneruskan dengan sahabatku.

Sebagai akhir kisah ini, aku masih dijalan persimpangan masih Islamkah aku atau kembali ke keyakinanku yang dulu, dimana cibiran keluargaku dan bujuknya terus mengajakku untuk kembali, namun dalam hati aku coba Istiqfar, tidak Ya allah kuatkan iman dalam hatiku,

“Astaqfirrulahhaladzim, ucapku terus sambil bersujud dan menangis serta mengadu akan keluh kesahku padaNYA, aku lupa telah lama sholat aku tinggalkan, Aku bertahajud memohon petunjuk dan kekuatan, airmataku tumpah, aku bercermin lelaki cengengkah aku?? Aku juga punya hati dan perasaan aku terluka atas pengkhianatan istri dan sahabatku.

Dan aku sempat bertelponan sejenak dengan sahabatku itu, bukan aku iri atau niat buruk , aku Cuma mengatakan

“Belajarlah dari aku, wanita apa yang kau nikahi? Kamu masih jejaka menikahi wanita beranak dua dengan umur beda jauh 6 tahun, dua kali dia selingkuh, dua kali dia khianati sebuah pernikahan, wanita apa yang kau nikahi, wanita yang bisa dijamah lelaki lain disaat dia masih bersuami?? Belajarlah dan bercerminlah, wanita seperti itu sudah karakter.dan akan selalu seperti itu dan aku tak tau apa yang dicarinya”

Sahabat Fillah, ini kisah nyata yang di alami seoraang Sahabat, dan beliau memang bercerita pada kami admin, untuk dikisahkan di page ini.

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

Bagikan tausiyah ini kepada teman-temanmu dengan meng-klik 'bagikan'/'share' dan undang temen2mu gabung dg klik ‘Invite Your Friends!’