Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 November 2015

Kisah Inspiratif: Istri Bijaksana Kunci Kesuksesan Suami
Penulis Yousuf Ibraheem


(Pijar.net) – Ada seorang pria, tidak lolos ujian masuk universitas, orang tuanya pun menikahkan ia dengan seorang wanita.

Setelah menikah, ia mengajar di sekolah dasar. Karena tidak punya pengalaman, maka belum satu minggu mengajar sudah dikeluarkan.

Setelah pulang ke rumah, sang istri menghapuskan air mata nya, menghiburnya dengan berkata: “Banyak ilmu di dalam otak, ada orang yang bisa menuangkannya, ada orang yang tidak bisa menuangkannya. Tidak perlu bersedih karena hal ini. mungkin ada pekerjaan yang lebih cocok untukmu sedang menantimu.”

Kemudian, ia pergi bekerja keluar, juga dipecat oleh bosnya, karena gerakannya yang lambat.

Saat itu sang istri berkata padanya, kegesitan tangan-kaki setiap orang berbeda, orang lain sudah bekerja beberapa tahun lamanya, dan kamu hanya belajar di sekolah, bagaimana bisa cepat?

Kemudian ia bekerja lagi di banyak pekerjaan lain, namun tidak ada satu pun, semuanya gagal di tengah jalan.

Namun, setiap kali ia pulang dengan patah semangat, sang istri selalu menghiburnya, tidak pernah mengeluh.

Ketika sudah berumur 30 tahun-an, ia mulai dapat berkat sedikit melalui bakat berbahasanya, menjadi pembimbing di sekolah luar biasa tuna rungu wicara.

Kemudian, ia membuka sekolah siswa cacat, dan akhirnya ia bisa membuka banyak cabang toko yang menjual alat-alat bantu orang cacat di berbagai kota.

Ia sudah menjadi bos yang memiliki harta kekayaan berlimpah.

Suatu hari, ia yang sekarang sudah sukses besar, bertanya kepada sang istri, bahwa ketika dirinya sendiri saja sudah merasakan masa depan yang suram, mengapa engkau tetap begitu percaya kepada ku?

Ternyata jawaban sang istri sangat polos dan sederhana.

Sang istri menjawab:

“Sebidang tanah, tidak cocok untuk menanam gandum, bisa dicoba menanam kacang, jika kacang pun tidak bisa tumbuh dengan baik, bisa ditanam buah-buahan; jika buah-buahan pun tidak bisa tumbuh, semaikan bibit gandum hitam pasti bisa berbunga. karena sebidang tanah, pasti ada bibit yang cocok untuknya, dan pasti bisa menghasilkan panen dari nya.”

Mendengar penjelasan sang istri, ia pun terharu mengeluarkan air mata. Keyakinan kuat, katabahan serta kasih sayang sang istri, bagaikan sebutir bibit yang unggul;

Semua prestasi pada dirinya, semua adalah keajaiban berkat bibit unggul yang kukuh sehingga tumbuh dan berkembang menjadi kenyataan.

Di dunia ini tidak ada seorang pun adalah sampah. hanya saja tidak ditempatkan di posisi yang tepat.

Setelah membaca cerita ini, jangan dibiarkan saja, sharing dan teruskan ke orang lain, Anda adalah orang yang berbahagia.

Delapan kalimat di bawah ini, semuanya adalah intisari kehidupan:

1. Orang yang tidak tahu menghargai sesuatu, biarpun diberi gunung emas pun tidak akan bisa merasakan kebahagiaan.

2. Orang yang tidak bisa toleransi, seberapa banyak teman pun, akhirnya semua akan meninggalkannya.

3. Orang yang tidak tahu bersyukur, seberapa pintar pun, tidak akan sukses.

4. Orang yang tidak bisa bertindak nyata, seberapa cerdas pun tidak akan tercapai cita-cita nya.

5. Orang yang tidak bisa bekerjasama dengan orang lain, seberapa giat bekerja pun tidak akan mendapatkan hasil yang optimal.

6. Orang yang tidak bisa menabung, terus mendapatkan rejeki pun tidak akan bisa menjadi kaya.

7. Orang yang tidak bisa merasa puas, seberapa kaya pun tidak akan bisa bahagia.

8. Orang yang tidak bisa menjaga kesehatan, terus melakukan pengobatan pun tidak akan berusia panjang.

~Berbagi kebaikan dengan berbagi tulisan yang inspiratif dan memotivasi ini. Dan terimakasih jika sahabatku mau membagikannya kepada orang lain.

Senin, 21 September 2015

Istriku Bukan Jadi Konsumsi Umum


Baiknya istri kita tidak jadi konsumsi umum. Yang biasa terjadi adalah di media sosial seperti Facebook, dll. Ada istri foto selfie sendirian. Ada pula yang memamerkan kemesraan dengan suami di medsos.

Yang terjadi pula istri suka berdandan untuk orang lain ketika keluar rumah. Sedangkan untuk suami? Dandannya pas-pasan, bahkan lebih senang memamerkan bau keringat daripada kecantikannya.

Begini alasannya …

Seorang suami ketika sudah melakukan akad nikah, berarti perwalian dari orang tua perempuan sudah berpindah padanya. Sehingga nafkah istri sepenuhnya jadi tanggung jawab suami.

Nah … jika demikian berarti kecantikan istri secara mutlak milik suami dong.

Jika demikian, apakah layak istri itu diobral, ditonton banyak orang? Setiap orang boleh menikmati kecantikannya?

Kalau penulis sendiri lebih senang kecantikan dan keelokan istri jadi milik suami. Bukan diumbar di depan umum. Tidak pula dengan menyuruh istri berdandan ketika keluar rumah.

Salah satu contoh istri teladan adalah Ummu Sulaim. Meskipun anaknya kala itu meninggal dunia, ia masih tetap berdandan cantik untuk suaminya. Dandanannya itu spesial untuk suaminya, bukan yang lainnya. Kisahnya sebagai berikut.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَاتَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ لأَهْلِهَا لاَ تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بِابْنِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ – قَالَ – فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ – فَقَالَ – ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ فَوَقَعَ بِهَا فَلَمَّا رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا قَالَتْ يَا أَبَا طَلْحَةَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوهُمْ قَالَ لاَ. قَالَتْ فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ. قَالَ فَغَضِبَ وَقَالَ تَرَكْتِنِى حَتَّى تَلَطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبَرْتِنِى بِابْنِى. فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا فِى غَابِرِ لَيْلَتِكُمَا ». قَالَ فَحَمَلَتْ

Dari Anas, ia berkata mengenai putera dari Abu Thalhah dari istrinya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata pada keluarganya, “Jangan beritahu Abu Thalhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya.”

Diceritakan bahwa ketika Abu Thalhah pulang, istrinya Ummu Sulaim kemudian menawarkan padanya makan malam. Suaminya pun menyantap dan meminumnya. Kemudian Ummu Sulaim berdandan cantik yang belum pernah ia berdandan secantik itu. Suaminya pun menyetubuhi Ummu Sulaim. Ketika Ummu Sulaim melihat suaminya telah puas dan telah menyetubuhi dirinya, ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?” Abu Thalhah menjawab, “Tidak.” Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.”

Abu Thalhah lalu marah kemudian berkata, “Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tentang kematian anakku?”

Abu Thalhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.” Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi. (HR. Muslim no. 2144)

Kenapa dandanan istri hanya untuk suaminya, bukan jadi konsumsi umum? Lihatlah perintah Allah,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzab: 33). Maqatil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias diri adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya. Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) ala jahiliyyah. Silakan kaji dari kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 183 (terbitan Dar Ibnul Jauzi).

Itu tanda wanita shalihah tidaklah suka dandan keluar rumah. Dandanan cantiknya spesial untuk suaminya saja.

Jika Anda -para suami- mendapati istri yang disayangi, yang selalu menjaga kecantikannya hanya untuk suami saja, maka bersyukurlah. Karena itulah ciri-ciri wanita terbaik sebagaimana disebut dalam hadits berikut ….

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 432. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Bandingkan dengan wanita saat ini, bahkan yang sudah berhijab. Mereka lebih ingin jadi konsumsi umum daripada untuk suaminya sendiri. Itulah bedanya wanita muslimah dahulu yang shalihah dengan yang sekarang yang semakin rusak.

Semoga Allah beri hidayah pada para istri untuk menjadi istri shalihah serta membahagiakan suami dan keluarga. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. (rumaysho)
Para Suami!, Istri-mu Bisa Tampil Cantik Jika Dimodali


Banyak suami yang melirik wanita lain karena menganggap lebih menarik daripada istri di rumah, padahal sesungguhnya setiap wanita bisa tampil cantik dan menarik jika dimodali suami.
Tak perlu kosmetika dempul tebal bercenti meter di permukaan kulit, justru kecantikan istri bisa muncul dengan perawatan kulit yang konsisten. Apalagi jika usia istri sudah di atas 30 tahun, harus ada jadwal perawatan kecantikan untuk mengurangi kerutan, menambah elastisitas kulit. Berikut ini beberapa hal yang bisa dimodali suami:


1. Pijat seluruh tubuh & wajah
Minimal berikan istri waktu dan dana untuk melakukan pijat/massage tubuh dan wajah di salon. Tidak ada uang? Ya tak masalah, Anda lakukan sendiri pijatan untuk istri!
Fungsi pijatan ini adalah melancarkan aliran darah yang tersumbat, penyebab wajah kusam dan tak bersinar. Juga untuk memberikan sensasi rileks yang nyaman.
Jika istri merasa badannya rileks dan segar, peredaran
darahnya lancar, ia pun tau suami perhatian padanya, maka ia akan banyak tersenyum untuk suami,  suami pun akan melihat istri lebih bersinar dan cantik.


line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;">2. Lulur & scrub wajah
Setelah pijatan, lulur bisa mengangkat sel-sel kulit mati yang membuat kulit tubuh dan wajah kusam. Memang rajin berwudhu bisa mencerahkan wajah, tapi kondisi lingkungan yang penuh polusi tentu saja perlu ditangkal dengan perawatan wajah lainnya, minimal scrub yang terbuat dari buah dan sayuran, atau bahan alami lainnya.
3. Belajar make up ringan
Betapa banyak wanita yang tampil cantik dan lebih menarik dengan make up. Tak perlu macam-macam, cukup pelajari cara menggunakan eye liner dan pensil alis, wajah bisa terlihat lebih cantik.
4. Belajar padu padan busana
Tampil cantik bisa lebih sempurna jika istri dibiayai untuk membeli busana yang sesuai dengan bentuk tubuhnya. Banyak sekali wanita terlihat anggun hanya karena memakai busana yang tepat model, warna, dan motifnya, dan untuk beberapa orang wanita... mempelajari padu padan busan bukanlah hal yang mudah, perlu dipandu.
Apalagi jika istri terbiasa mengenakan daster di rumah, perlahan-lahan ajari untuk memilih busana rumah yang lebih nyaman dipandang mata suami. Belikan gaun malam yang nyaman dipakai di rumah dan membuat istri lebih tampil cantik.
5. Pemilihan parfum yang tepat
Parfum dengan bau terlalu menyengat mungkin akan membuat suami pusing, pilihkanlah parfum wanita dengan wangi kesukaan Anda dan hadiahkan untuk istri. Jangan lupa ingatkan untuk memakai parfum itu di rumah saja.
Wangi parfum bisa membuat istri semakin menarik. Sehingga tak ada alasan bagi suami untuk bermain nakal di luar rumah.
Demikianlah beberapa hal yang bisa dimodali suami agar istri lebih tampil cantik dan menarik, semoga bisa menambah romantis hubungan pasutri.

Rabu, 26 Agustus 2015

Mana yang Harus Diutamakan, Suami Menafkahi Istri atau Ibu Kandungnya?
Oleh : A Humaira


Assalamualaikum wr. Wb. Ustad/ustdzah saya Iva, wanita dan sudah menikah. Saya bekerja dan memiliki anak 1 masih balita. Saya ingin bertanya, bagaimana islam memandang apabila dalam rumah tangga istri harus memenuhi kebutuhan sendiri & anak, dikarenakan suami harus membyar cicilan pinjaman di bank & memberikan nafkah ke ibunya, sedangkan ibu mertua mampu & msih dapat nafkah dari bapak mertua & dari kakak ipar setiap bulannya. Suami takut ibunya marah jika tidak dikasih. Jadi suami tidak bisa menafkahi istri dan anak. Apakah dalam islam berdosa ustad/ustdzah ? Apakah islam memandang apabila tidak memberi nafkah ke ibunya, suami saya berdosa ? Apakah tidak bisa memberi nafkah istri dan anak termasuk mendzalimi istri & anak ? Mana yang harus didahulukan istri & anak atau ibunya? Sblm menikah saya seorang yatim & saya juga msih menjadi tulang punggung keluarga untuk menafkahi ibu saya dan adik saya sampai saat ini. Bagaimana islam memandang permasalahan ini, mhon jwabanya ustad/ustadzah. Sukron. Wassalam,

Jawaban

Assalamu alaikum wr.wb Alhamdulillahi Rabbil alamin. Washshalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba’du:

Dalam Islam jelas bahwa seorang suami bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Alquran surat an-Nisa ayat 34 dan al-Baqarah 233.    Meskipun kondisi isteri mampu, berkecukupan, bahkan kaya, kewajiban untuk memberikan nafkah keluarga tetap menjadi tanggung jawab suami, kecuali kalau isteri ridha dg keadaan yang ada. Namun jika tidak, dan suami tetap tidak mau memberikan nafkah kepada isteri dan anak, maka sang suami berdosa. Rasul saw bersabda, “Cukuplah seseorang mendapat dosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.”

Selanjutnya seorang suami memang dituntut untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak, serta kepada kedua orang tuanya jika mereka berada dalam kondisi membutuhkan dan kekurangan. Kalau suami bisa memenuhi kebutuhan mereka semua, maka wajib baginya untuk memenuhi.    Namun jika penghasilan atau hartanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, maka harus ada prioritas. Yaitu yang harus didahulukan adalah isteri dan anak yang memang berada dalam tanggung jawab utamanya sebagai seorang suami. Hal ini berdasarkan sabda Rasul saw, “Mulailah dari dirimu dengan bersedekah (memberikan nafkah) untuknya. Lalu jika ada yang tersisa maka untuk keluargamu (isteri dan anakmu). Jika masih ada yang tersisa, maka untuk karib kerabatmu (orang tua, saudara dst), dan begitu seterusnya.”

Imam an-Nawawi berkata, “Apabila pada seseorang berhimpun orang-orang membutuhkan dari mereka yang harus ia nafkahi, maka bila hartanya cukup untuk menafkahi semuanya, ia harus menafkahi semuanya, baik yang dekat maupun yang jauh. Namun apabila sesudah ia menafkahi dirinya, yang tersisa hanya nafkah untuk satu orang, maka ia wajib mendahulukan isteri daripada karib kerabatnya yang lain…(Raudhah ath-Thalibin).

Melihat pada kasus Anda, hendaknya suami mendahulukan yang menjadi kewajibannya, yaitu menafkahi isteri dan anak. Jika kondisinya benar-benar tidak mampu menafkahi ibunya, maka suami tidak berdosa karena Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Hanya saja, hal ini harus dibicarakan secara baik-baik disertai dg pemberian pemahaman. Kalau ibu masih tetap bersikeras untuk mendapat nafkah suami, sementara Anda sebagai isteri ridha demi untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga, maka Anda mendapatkan pahala yang besar insya Allah. Namun jika tidak ridha, Anda berhak untuk menuntut suami.   Semoga Allah memberikan keberkahan dan jalan keluar terbaik bagi Anda sekeluarga.

Wallahu a’lam.

Kamis, 30 Juli 2015

6 Dosa Suami terhadap Istri

SUAMI juga manusia, bisa berbuat salah. Namun, kesalahan sikap bisa diperbaiki. Yang paling penting, ketika menikah, suami tidak boleh melakukan kesalahan syar’i kepada istri. Ada beberapa kesalahan suami terhadap istrinya dan ini sangat mendasar. Apa saja?

1. Tidak mengajar agama dan hukum syariat kepada Isteri.

Betapa sukarnya untuk menjadikan seorang isteri yang benar-benar solehah. Malah, istri menjadi satu ujian besar bagi seorang lelaki untuk mencari dan membentuk pasangan menjadi seorang isteri yang mempunyai sifat yang terpuji dan kriteria pegangan agama yang kuat.
Berbahaya jika ada di antara isteri masih tidak tahu bagaimana untuk menunaikan solat dengan betul, hukum haid dan nifas, melayani suami dan mendidik anak mengikuti Islam.

2. Mencari-cari kekurangan dan kesalahan isteri.

Jika seorang suami terus mencari kekurangan dan kelemahan istrinya, dikhuatirkan akan menimbulkan perasaan kurang senang pada isterinya. Dan barang siapa mencari aib saudaranya sendiri, Allah juga akan mencari aibnya. Maka, hendaklah seorang suami itu bersabar dan menahan diri dari kekurangan yang ada pada isterinya.

3. Menghukum tidak sesuai kesalahan.

Hal ini termasuk kezaliman terhadap isteri. Di antara bentuk hukuman yang zalim itu adalah:
– Memukul di tahap awal pemberian hukuman. Padahal Allah SWT telah berfirman,“Wanita-wanita yang kamu khuatirkan nusyuz-nya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka.”( An Nisa’:34)
– Mengusir isteri dari rumah tanpa ada sebab secara syar’i. Allah SWT berfirman yang artinya: “Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang .” (Ath Thalaq:1)
– Memukul wajah, mencela dan menghina. Ada seseorang yang datang bertanya kepada Rasulullah, apakah hak isteri ke atas suaminya? Baginda menjawab, “Dia (suami) memberinya makan jika dia makan, memberinya pakaian jika dia berpakaian, tidak memukul wajah, tidak memburuk-burukkan dan tidak memboikot kecuali di dalam rumah.” (Riwayat Ibnu Majah, disahihkan oleh Al Albani)

4. Pelit memberi nafkah.

Sesungguhnya kewajiban suami adalah memberi nafkah kepada isteri, sepertimana yang ditetapkan di dalam al-Quran. Isteri berhak mendapat nafkah, kerana dia telah menjadi halal untuk disenangi, dia telah menaati suaminya, tinggal di rumahnya, mengatur rumahnya, mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

5. Sikap keras, dan kasar.

Rasulullah SAW bersabda: “Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isteri-isterinya.” (Riwayat Tirmidzi, disahihkan al Albani). Maka hendaknya seorang suami itu berakhlak baik terhadap isterinya, dengan bersikap lembut, dan menjauhi sikap kasar. Di antara bentuk sikap lembut seorang suami itu adalah, bergurau senda, menyuapkannya makan dan memanggilnya dengan panggilan yang mesra.

6. Berpoligami mengikut nafsu

Memang tidak dinafikan, menikah untuk kali kedua, ketiga dan keempat merupakan satu perkara yang disyariatkan. Akan tetapi ramai di kalangan lelaki yang mengamalkan poligami tidak memenuhi kewajipan-kewajiban terhadap isteri dengan benar. Terutamanya isteri yang pertama dan anak-anaknya. Padahal Allah SWT telah berfirman, “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kahwinilah) seorang saja.” (An Nisa: 3). Suami boleh bernikah lagi tetapi sekiranya ia tidak mampu untuk berlaku adil, dan tidak boleh memikul tanggungjawab, lebih baik melupakan niat untuk menikah lagi demi kebahagiaan bersama. [majalah-i]
Jika Istrimu Cerewet CINTAI dan SYUKURILAH!


Tak selamanya cerewet itu jelek. Tidak selalu cerewet itu menyebalkan, menjengkelkan, mengesalkan, ataupun dampak buruk lainnya. Dalam banyak keadaan, kecerewetan istri amatlah bermanfaat. Kelak akan Anda sadari, di dalam kecerewetan istri, terdapat kebaikan yang banyak.

Ketika Subuh belum menyapa sebab fajar belum masanya tiba, kecerewetan istri mungkin saja akan mengganggu waktu rehat Anda. Padahal, hari itu Anda lembur dan baru pejamkan mata empat atau lima jam yang lalu. Lalu dengan polos dan tanpa merasa berdosa, istri Anda mulai membisiki telinga, meyentuh kulit, dan sedikit menggoyangkan badan Anda dengan kalimat yang tak dikehendaki nafsu, “Mas, ayo bangun… Cepetan sayang… Sebentar lagi subuh…”

Dan, ketika Anda menarik selimut serta membenarkan bantal, tiba-tiba ia datang seraya memercikan air ke wajah Anda dengan gaya khasnya yang lembut, mengikuti saran sang Nabi pilihan umat. Agar, kalian berdua senantiasa diberkahi.

Lalu ketika Anda mulai mengumpulkan nyawa seraya duduk di tepi ranjang, rupanya kecerewetannya belum berhenti. Ia pun membimbing seraya menarik mesra badan Anda, kemudian menuntun agar Anda bergegas ke kamar mandi, mengambil air wudhu.

Setelahnya, ketika Anda sudah berhasil lari dari jeratan setan lantaran kecerewetan perkataan dan perbuatan istri Anda di pagi yang belum melek itu, saat Anda hendak beranjak kembali ke ranjang melanjutkan tidur setelah dirikan rakaat Tahajjud secukupnya, percayalah bahwa kecerewetan itu tidak akan berhenti, bahkan akan senantiasa bertambah.

“Mas, kok tidur lagi?” ujarnya seraya mendekat, “Sudah mau adzan tuh.” Kemudian dengan sedikit gelayutan manja di bahu yang padanya didapati ketenangan sandaran, ia mengatakan sembari daratkan kecupan hangat penuh kemesraan di kening Anda, “Sana berangkat ke masjid.”
“Iya sayang… Baru juga adzan.” Jawab Anda setengah hati.

Saat mendengar jawaban ngeles yang Anda sampaikan itu, bersiaplah untuk mendengarkan ceramah sebelum Subuh yang penuh dengan tekanan dan ekspresi sepenuh hatinya, “Sayang… Datang lebih awal itu lebih baik… Biar dapat unta merah…”

“Iya, iya, sebentar. Mau merem. Sebentar aja kok.”
Ketika Anda belum menutup mulut, percayalah bahwa materi ceramahnya akan semakin bertambah, dan kali ini cukup membuat Anda bergegas menyambangi suara adzan Subuh yang menentramkan itu, “Mas.. Cepetan berangkat… Sudah ditungguin bidadari tuh…”
“Ah,” kilah Anda sembari membenarkan posisinya, “masih juga di dunia.”
“Ya udah deh…” lanjut istri Anda dengan kecerewetannya, “Nanti ditambahin bidadari dunia deh…”
Maka siap-siaplah, tepat ketika Anda bergegas setelah mendengar motivasi terakhir itu, sepulangnya dari masjid tidak ada lagi kopi hangat yang biasa menemani waktu santai Anda di pagi yang berkah itu.

Karenanya, percayalah; sayangi dan cintai kecerewetan istri Anda, sebab di dalamnya terdapat kebaikan yang amat banyak
Tips Rumah Tangga Bahagia: Jauhi 8 Sifat Istri yang Dibenci Suami


KUNCI utama rumah tangga bahagia adalah adanya saling cinta dan kasih sayang antara suami dan istri. Sang suami akan menghargai dan memberikan segenap cinta dan kasih sayang kepada istrinya, jika kaum wanita pun memberikan cinta dan penghargaan kepada suaminya. Demikian pula sebaliknya.

Agar istri tidak kehilangan rasa cinta dan rasa hormat suaminya, maka seorang istri harus mengetahui dan menjauhi sifat-sifat wanita yang dibenci suami. Di antara sifat-sifat tersebut yang paling menonjol, sebagaimana ditulis Shabah Sa’id dalam bukunya Az-Zaujah Al-Mubdi’ah wa Asrar Al-Jamal, antara lain:

1. Istri yang sibuk dengan dirinya sendiri.

Istri seperti ini biasanya menjauhi segala urusan suami, dan lebih mementingkan urusan serta kegemarannya sendiri. Pada dasarnya, istri seperti ini merasa nyaman setiap kali dia bisa menyendiri, serta bisa menjaga segala apa yang dia dengar, dia lihat, dan dia sentuh untuk diri sendiri. Boleh jadi hal ini merupakan akibat adanya penyakit psikis yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

…Istri seperti ini adalah istri yang mengabaikan eksistensi suaminya. Karena dia selalu tidak meminta saran suaminya, atau tidak melibatkannya dalam urusan keluarga.

2. Istri yang suka mendominasi.

Istri seperti ini adalah istri yang mengabaikan eksistensi suaminya. Karena dia selalu tidak meminta saran suaminya, atau tidak melibatkannya dalam urusan keluarga. Dia senantiasa menjalankan sendiri segala urusan keluarga dan urusan rumah dengan tanpa memandang pendapat suami.

Di sini, seorang suami akan merasa bahwa jati dirinya telah hilang, sebab yang bisa dia lakukan untuk kebaikan rumah atau anak-anaknya hanya menyerah saja, atau mengabaikan keberadaan dirinya. Pria semacam ini, jika tidak memisahkan dirinya dari istri seperti itu, bisa jadi dia akan berusaha mencari, atau mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini dari wanita lain.

3. Istri yang gemar berdusta.

Salah satu hal yang mesti dimiliki dalam hubungan pernikahan adalah unsur kejujuran dalam segala hal. Ini mengingat, kejujuran merupakan salah satu pilar ketenteraman dan kebahagiaan. Di luar sana terdapat banyak wanita yang gemar berdusta. Mereka menjadikan dusta sebagai hobi atau sebagai dalih karena takut sesuatu. Namun apa pun alasannya, dusta dan tipu daya adalah dua hal yang paling dibenci kaum pria. Meskipun terkadang seorang pria menerima tindakan dusta dari istrinya karena satu atau lain hal, namun penerimaan seorang suami terhadap sifat buruk itu biasanya disertai dengan pandangan meremehkan.

4. Istri yang kejam/galak.

Istri semacam ini adalah istri yang begitu mudahnya memberikan hukuman kepada suaminya, ketika suaminya melakukan suatu hal tertentu. Istri seperti ini terus-menerus meresahkan suaminya, sebab karakter permusuhannya tersebut. Selain itu, istri seperti ini akan terbiasa mengeluarkan kata-kata pedas, keras, dan kasar kepada tetangga, teman-teman, dan anggota keluarganya. Istri yang kejam, tentunya menimbulkan banyak masalah bagi suaminya, bahkan bagi anak-anaknya pula. Sehingga tertanam dalam jiwa anak-anaknya sikap tidak senang dan akan menjauh dari ibunya.

…Istri galak, begitu mudahnya memberikan hukuman kepada suaminya, ketika suaminya melakukan suatu hal tertentu. Istri seperti ini selalu meresahkan suaminya…

5. Istri yang menyulitkan.

Wanita semacam ini terbiasa hidup dalam suasana kehidupan yang penuh dengan perilaku buruk, gejolak rumah tangga, senantiasa menciptakan benih-benih perselisihan. Sebab setiap kata yang terlontar dari mulut suaminya yang berisi perintah terhadap hal penting yang mesti dilakukan istrinya, ternyata istrinya malah menepis semua perkataan suaminya dan menolak bertanggungjawab atas hal itu. Sehingga seringkali dia menciptakan kesulitan dan menyulut pertikaian antara dirinya dengan suaminya. Dalam kondisi demikian, sang suami lebih mengutamakan untuk menjauh dari rumah, atau barangkali dia akan tetap di rumah dan ikut-ikutan dengan sifat buruk istrinya.

6. Istri yang pasif.

Istri semacam ini akan membiarkan dan menyerahkan segala urusan kepada suaminya, sehingga suaminya menjalankan seluruh urusan keluarga dan rumah tangga. Peran istri hanya terbatas menjalankan instruksi-instruksi suaminya. Dia senantiasa menyerah dalam segala hal, seakan-akan dia menuntut suaminya agar lebih berkuasa dengan tanpa berusaha menunjukkan perannya atau keberadaannya sedikit pun terhadap suaminya, padalah dia adalah pasangan hidup bagi suaminya.

7. Istri yang keras kepala.

Istri semacam ini adalah istri yang keras kepala dalam segala hal, dan dia terus berlindung di balik sifatnya yang keras kepala itu. Sebab dia mendapatkan kenyamanan pada dirinya ketika dia bersikeras mengikuti pendapatnya, sekalipun itu salah. Di samping itu, melalui cara itulah dia mendapatkan kepuasan diri. Misalnya, andai suaminya menginginkan satu jenis makanan, dia terus-menerus menyiapkan jenis makanan lainnya, sekalipun sebenarnya jenis makanan itu juga tidak disukainya. Wanita semacam ini adalah wanita yang paling dibenci kaum laki-laki.

…Istri yang keras kepala dalam segala hal adalah wanita yang paling dibenci kaum laki-laki…

8. Istri yang menggemari rutinitas.

Istri semacam ini adalah sosok yang menganggap bahwa pernikahan adalah akhir dari segala kehidupannya. Sebab segala ambisi dan keinginannya telah dipendam dalam-dalam pasca menikah. Menurutnya, setelah menikah tidak ada lagi keinginan dan ambisi. Dengan begitu, dia beranggapan bahwa hari ini sama dengan hari kemarin, dengan artian, bahwa segala sesuatu dalam kehidupan pernikahan hanya sarat dengan rutinitas yang teratur dan monoton.

Hal-hal di atas adalah bagian dari sifat-sifat istri yang paling dibenci kaum suami. Oleh karena itu, hendaknya para istri kembali meniti kembali gaya hidupnya dengan menjauhi sifat-sifat di atas, demi meraih kebahagiaan dan ketenteraman kehidupan rumah tangga.
Penyebab Suami-Istri Kehilangan Cinta dalam Rumah Tangga?


Tentu banyak dari kita yang merasa heran, bagaimana mungkin ada pasangan suami-istri yang telah menjalani pernikahan puluhan tahun akhirnya berujung perceraian? atau pasangan muda yang awalnya mengaku cinta mati tiba-tiba saja bercerai dengan alasan sudah kehilangan cinta.


Sebenarnya, apakah penyebab pasutri kehilangan cinta dalam rumah tangga hingga sering kali berujung perceraian? Setidaknya beberapa sifat berikut ini memberi andil besar yang membuat pasutri kehilangan rasa cinta:

1.Egoisme

Siapa yang bisa tahan menghadapi orang yang memiliki sifat hanya mementingkan diri sendiri? Secantik atau setampan apapun pasangan kita, jika memiliki sifat egois yang amat tinggi, tentu saja cepat atau lambat akan membuat capek hati dan akhirnya mematikan rasa cinta yang semula tumbuh.

Oleh sebab itu, hindarilah sifat egois sebisa mungkin jika memang mengharapkan pernikahan bahagia yang penuh cinta.

2.Monoton

Menjalani pernikahan yang begitu-begitu saja, istri di rumah, suami bekerja, demikian bergulir setiap hari nyaris tanpa variasi kegiatan bersama yang menyenangkan, hanya sekadar melakukan rutinitas, tentu saja kemonotonan ini cepat atau lambat akan mendatangkan kebosanan dan pudarnya rasa cinta.

Sahabat Ummi, usahakanlah melakukan tarik ulur dalam hubungan dengan pasangan, agar tidak terjadi kejenuhan akibat interaksi yang monoton di antara pasutri.

3.Kekerasan dalam Rumah Tangga

Tidak dapat dipungkiri, kekerasan dalam rumah tangga akan menghilangkan rasa cinta di antara pasutri. Oleh sebab itu, sebisa mungkin menghindari perkataan kasar ataupun sifat gampang main tangan.

4.Kebohongan

Sering kali kebohongan menyebabkan hilangnya respek dan rasa cinta pada pasangan hidup sendiri, oleh sebab itu penting untuk menjaga keterbukaan dan saling jujur antar pasangan.

5.Posesif berlebihan

Sifat posesif yang melahirkan cemburu buta rasanya bukanlah suatu hal yang menyenangkan di antara pasutri, malah sifat ini bisa menjadi bumerang bagi pernikahan itu sendiri yang menyebabkan pudarnya rasa cinta. (ummi-online)

Sabtu, 06 April 2013

Ketika Pasangan Mulai Mendua

Photo © Gert Lavsen
Cinta bukan sekedar sekumpulan kata yang indah di lisan.
Cinta bukan hanya manis dilaku, dan sepintas lalu.
Namun cinta adalah perjuangan.
Perjuangan ketika ujian melanda, dan cinta tetap bertahan.
Bertahan karena-Nya.
* * *
Dia masih di sudut pintu kamar menunggu jawabanku, dan aku tertunduk di sofa samping tempat tidur kami. Kamar ini sebelum satu jam yang lalu masih ruangan favoritku. Lampu temaram yang membuat ruangan ini selalu terasa cozy. Semua aktivitas favoritku berpusat disini. Menulis, membaca dan diskusi dengannya. Dan detik ini, ruangan kami begitu menyiksa hati.

Seperti sketsa di sebuah pertunjukkan. Rumah tangga yang selalu meredam emosi dengan diskusi panjang, dan kami yang mampu menahan ego satu sama lain karena rasa saling menghormati dan menyayangi. Jika sebelas tahun terasa singkat, itu karena kami selalu saling mengerti. Dan tibalah ketika lelaki ini bercerita bahwa ada sosok lain yang membutuhkannya. Membutuhkan tak sekedar perhatian antar sesama, namun lebih dari itu berbagi kasih sayang. Wanita itu sahabat suamiku. Dan aku mengenal dekat bahkan dengan keluarganya. Wanita baik, berasal dari keluarga baik-baik dan suaminya meninggalkannya ketika bertugas di Lhok Ngah Aceh dan tak pernah kembali ketika musibah Tsunami melanda di akhir tahun 2006. Meninggalkan seorang istri dan putri yang masih balita.
Kami dekat, karena kami berkewajiban membantu keuarga yang baru saja dilanda musibah dan putri mereka yang kini yatim. Hubungan kami baik selama 7 tahun. Suamiku yang shalih, tak pernah marah berlebihan padaku, telaten mengajarkanku banyak hal dan yang selalu kuingat sifat amanahnya akan sebuah komitmen untuk selalu bermanfaat. Hingga aku pun akrab dengan sahabatnya.
Ketika kantorku membutuhkan pegawai, maka sahabat suamiku lah yang kuhubungi, karena memang ia single parent yang membutuhkan pekerjaan. Maka semakin akrablah kami.
Dan ketika lelaki itu meminta istrinya untuk rela berbagi rumah tangga dengan wanita lain, maka keluarlah sebuah kalimat meminta izin. Dan jika tidak diizinkan pun, lelaki itu tak memaksa. Dia akan tetap memilih istrinya. Di kehidupan kini maupun nanti.
Ah, lelaki itu suamiku dan wanita itu kini bukan hanya sahabat baikku, ia sudah seperti saudara.
Mendadak bibir kelu dan ujung lengan sweater ku basah dengan airmata yang tak berhenti meleleh.
Aku mencari alasan untuk tak sakit hati, atas permintaan dan pernyataan suamiku. Permintaan yang tak sanggup kukabulkan. Suamiku yang nyaris mengasihiku secara utuh, suamiku yang kukagumi nyaris penuh seluruh jiwaku, lalu dimana cintaku kini kuletakkan. Hingga hati tak terlalu sakit.
Sampai detik ini, aku tak pernah menanyakan apakah wanita itu memahami maksud suamiku. Sungguh telinga ini tak siap, mendengar sejauh apa hubungan mereka.
Yang ku tahu, kini suamiku menjaga jarak dengannya dan aku memilih resign. Meski begitu aku tetap bersahabat dengannya. Persahabatan kami tak terganti. Dia wanita yang menjaga keshalihatannya. Suamiku tak salah pilih, aku yang tak sanggup dengan pilihan hidupnya.
Rumah Kami, 2013
* * *
Kehidupan tak selalu berpihak pada kita. Kita belajar hal tersebut mulai dari kecil, dimana kita berusaha keras dengan belajar ketika ujian, namun hasil yang didapat tak sebanding dengan kerja keras kita. Dan ketika kita mencapai fase untuk membangun rumah tangga seperti yang kita inginkan, maka ujian pun menemani proses pencapaian terbaik kita. Namun Allah selalu ada di setiap langkah. Dimana Dia Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Termasuk ujian yang akan menaikkan derajat keimanan hambanya. Dan ketika ujian datang kepada muslimah, seharusnya kita siap. Kesiapan kita tergantung kadar keimanan dan ilmu kita.
Lalu apa yang kita lakukan ketika ujian datang, berikut tips yang semoga membawa inspirasi untuk muslimah agar lebih tegar disaat ujian melanda.
1. Allah sebaik-baik tempat mencurahkan isi hati.
Yakinlah segala permasalahan atas kehendak-Nya, maka jadikanlah yang Maha Berkendak adalah tempat pertama untuk mengadukan segala keluh kesah. Allah tempat untuk melapangkan hati sebelum kita berbagi beban ke sesama. Setelahnya agar Allah menunjukkan kita bertemu dengan keluarga dan sahabat-sahabat terbaik sebagai pemberi nasihat. Ingatlah, bahwa kita tidak sendirian mengahapi permasalahan rumah tangga kita. Ada Allah yang tak pernah lelah mendengar pinta kita. Selalu resapi isi Al Quran, karena segala permasalahan di muka bumi ini tertuang dalam Al Quran.
“Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu Kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya” (QS. Al-Mu’minuun : 62).
2. Momen muhasabah.
Koreksi diri. Tentulah tak ada asap kalau tak ada api. Dan hendaknya sebuah permasalahan adalah momen untuk mengevaluasi. Sejauh mana kebaikan kita dalam mengurus rumah tangga? Sudahkah kita ikhlas berbakti pada suami hingga tak ada keluh ketika suami berperilaku seperti yang kita harapkan? Lalu sejauh mana kebaikan kita dalam berumahtangga sehingga rumahtangga kita memberi manfaat pada sesama?
Momen koreksi diri juga langkah awal untuk berbesar hati. Bahwa di setiap kesalahan pasangan, ada tanggung jawab kita. Disinilah kita belajar berbesar hati mengambil hikmah atas sebuah ujian yang tengah melanda.
3. Saatnya me-recovery hati.
Ya, saatnya menyembuhkan hati, agar rutinitas kehidupan tetap berjalan. Permasalahan harus kita hadapi dan selesaikan dengan baik, terpuruk dan tidak keluar dari kamar bukanlah penyelesaian. Mulailah bangun komunikasi yang ‘lebih baik’ dengan pasangan. Sabar, ikhlas, ikhtiar, doa, ber-silaturrahim dan menempatkan porsi cinta yang sewajarnya mampu membuat lapang hati. Sakit memang ketika dihadapkan pada pasangan yang mulai mendua, namun dengarlah alasan pasangan. Selanjutnya berdiskusi dan maafkan. Apapun keputusan kita dan pasangan, yakinkan bahwa semua atas kehendak Allah.
Mudah bagi Allah menjadikan kesulitan berganti kemudahan dan menjadikan ujian berganti kebahagiaan. Permasalahan ada, agar kita lebih mendekat pada-Nya, dan Allah tak ingin diduakan oleh hamba-Nya. Semoga sebentuk hati pada pasangan yang mendua, dimampukan dalam pilihan kebaikan yang karena Allah semata. Aamiin.
Oleh: Fayza Sari

Baru Akad Nikah, Langsung Cerai

 

republika.co.id
“Jika sudah ada cinta di hatimu, maka sudah pasti ada cinta di hati yang lain.” Penulis masih saja ingat dengan syair-syair itu yang dulu pernah dihafalkan dalam mata kuliah ‘Adab Arabi’, walau akhir-akhir ini pemaknaan syair itu penulis baca dalam redaksi yang berbeda yang ditulis Ustadz Anis Matta. Iya, begitulah kehidupan, diciptakan berpasangan, dan setiap insan dengan usahanya selalu berusa menemukan takdir cintanya.
Saking agungnya pertemuan ini, sehingga kita akan melihat bahwa semua berusaha mempersiapkan acara yang satu ini dengan persiapkan yang terbaik.  Berapa bulan sebelum pernikahan semua sudah sibuk memikirkan busana apa yang nanti akan dipakai oleh pengantin, tak ketinggalan seragam orang tua dan keluarga yang nanti akan mendampingi juga, desain panggung, menu makanan dan lainnya sudah disipkan dengan maksimal.
Luluran, minum madu, susu, semua juga dilakukan agar di hari H nantinya terlihat indah cetar membahana. Pendek cerita semua fokus agar acara sukses.
Tiba di hari H, dan semua tamu undangan sudah hadir, dengan gagahnya acara aqad nikah dimulai. Biasanya acara ini dimulai dengan tilawah, khusyuk sekali menyimak ayat demi ayat yang dilantunkan, lalu kemudian disusul dengan acara yang lainnya, dan berikutnya tibalah sa’atnya acara ijab qabul yang biasanya dipandu oleh bapak penghulu.
“Wahai si A, kamu saya nikahkan dengan anak perempuanku bernama C dengan mas kawin 100 gram emas dibayar tunai, begitu lafazh ijab keluar dari lisan wali calon pengantin perempuan walau kadang dengan nada suara sedikit serak-serak basah. Lalu biasanya tanpa diselang dengan apapun, calon pengantin laki-lakinya akan segera menyambutnya dengan lafazh qabul: “Saya terima nikahnya dengan mas kawin tersebut.” Dan ‘sah’, semua kompak.
Lalu semua mengangkat tangan dengan penuh haru, bersama mendo’akan keberkahan bagi sepasang pengantin yang sudah sah sebagai suami-istri. “Baralkallahu laka wabaraka’alaika wajama’a bainakuma fi khair”
Ijab dan qabul itu adalah ikatan yang kuat, mitsaqan ghalizha. Dia tidak main-main, dalam Al-Qur’an mitsaqan ghalizha ini juga dipakai oleh Allah sebagai ikatan janji antara hamba dan Tuhannya, saking kuatnya ikatan perkawinan itu, seakan Allah menyamakannya dengan ikatan tauhid antara hamba dan Tuhannya.
Sampai disini rasanya semua persiapan yang dilakukan tadi tidak sia-sia, acara yang sangat sakral ini bisa dilalui dengan baik dan indah sekali. Di rekam lagi, agar acara ini bisa dilihat nanti malam saat berdua saja.
Tapi tahukah kita bahwa ‘biasanya’ setelah acara ijab dan kabul yang suci ini diucapkan, lalu kemudian acara berikutnya adalah kita akan mendengarkan dan menyaksikan bersama pengantin laki-laki ‘mentalak’ istrinya yang baru saja sah dan halal bagi dia. Kok bisa ya? Belum apa-apa kenapa sudah di talak? Nah, lo.. Habis aqad nikah langsung talak.
Shighat Ta’liq Thalaq
Shighat itu artinya lafaz, ta’liq artinya menggantungkan, sedang thalaq artinya cerai. Maka maksud dari istilah ini adalah lafaz cerai yang digantungkan, jadi jika ada orang yang mengucapkan singot ini, itu artinya dia sudah melafazkan lafaz cerai. Dan para ulama sepakat bahwa itu adalah lafaz cerai, hanya saja cerainya itu belum terjadi, karena cerainya bergantung dengan kejadian tertentu yang dia maksud dalam lafaz singot tersebut.
Sighat Ta’liq Thalaq ini biasanya dibaca oleh suami tepat setelah beberapa sa’at dia melakukan ijab qabul. Sebagian penghulu ada yang sepertinya ‘memaksakan’ agar lafaz ini bisa dibaca, walau ada sebagian penghulu yang memberikan pilihan mau dibaca atau tidak.
Tapi anehnya kok sepertinya para suami itu gagah sekali ya membacakan lafaz cerai ini, dan undangan yang hadirpun seakan ikut mendukung agar suami yang tadi baru saja melewati masa-masa tegangnya untuk segera melafazkan lafaz cerai ini, padahal yang dibaca adalah lafaz cerai.
Penulis hanya berpikir saja, kok bisa ya? Belum apa-apa kenapa lafaz cerai yang keluar? Bukankah lafaz cerai itu mestinya dibuang jauh dari pikiran suami, tapi kenapa disini malah dilegalkan, seakan itu sebuah keharusan. Padahal cerai itu bagian yang paling dibenci dalam ikatan pernikahan.
Perhatikan saja isi shighat yang sering dibaca itu, ini jelas-jelas lafaz cerai, walau cerainya masuk dalam katagori cerai yang bergantung dengan terjadinya sesuatu, dalam bahasa fiqihnya disebut dengan Ta’liq at-Thalaq.
“Sesudah akad nikah saya (nama mempelai pria) bin (nama ayah mempelai pria) berjanji dengan sepenuh hati, bahwa saya akan menepati kewajiban saya sebagai seorang suami, dan akan saya pergauli istri saya bernama (nama mempelai wanita) binti (nama ayah mempelai wanita) dengan baik (mu’asyarah bilma’ruf) menurut ajaran syari’at Islam.
Selanjutnya saya membaca sighat taklik atas istri saya sebagai berikut :
Sewaktu-waktu saya :
1. Meninggalkan istri saya dua tahun berturut-turut,
2. Atau saya tidak memberi nafkah wajib kepadanya tiga bulan lamanya,
3. Atau saya menyakiti badan/jasmani istri saya,
4. Atau saya membiarkan (tidak memperdulikan) istri saya enam bulan lamanya,
 Kemudian istri saya tidak ridha dan mengadukan halnya kepada pengadilan agama dan pengaduannya dibenarkan serta diterima oleh pengadilan tersebut, sebagai iwadh (pengganti) kepada saya, maka jatuhlah talak saya satu kepadanya.
Kepada Pengadilan tersebut saya kuasakan untuk menerima uang iwadh itu dan kemudian menyerahkan kepada Direktorat Jendral Bimas Islam dan Penyelengara Haji Cq. Direktorat Urusan Agama Islam untuk keperluan ibadah sosial”
Ttd: Suami.
Tapikan Maksudnya Baik?
Dilihat dari isinya memang baik, tapi alangkah baiknya jika maksud dan tujuan dari isi tersebut disampaikan dalam bentuk yang lain, bukan dengan cara dilafazhkan.
Alangkah baiknya jika perkara hak dan kewajiban suami-isrti tersebut disampaikan sebelum pernikahan, lewat taushiyah singkat dari bapak penghulu sebagai orang yang nantinya akan mengurus perkawinan mereka. Pun begitu dengan perkara talak, karena yang demikian tidak boleh sembarang, perkara talak ini sangat sensitif.
Untuk itu penulis lebih sepakat jika ada bapak penghulu yang sengaja memnggil mereka yang mau menikah itu –khusunya-  calon pengantin laki-lakinya beberapa hari sebelum pernikahan dilaksakan, hanya sekedar memastikan pengetahuan tentang ilmu pernikah sudah ada pada calon pengantin.
Tentang hak dan kewajiban suami-istri, tentang memperlakukan pasangan dengan baik, tentang adab-adab pengantin baru, fiqih mandi wajib, hingga tentang perceraian, itu semua harus dipastikan bahwa calon pengantin kudu faham itu, apalagi jika yang menikah itu adalah pasangan yang secara pendidikan agama agak kurang.
Penulis hanya membayangkan alangkah mulianya tugas penghulu jika seperti itu, bukan hanya memperhatikan sisi administarasinya saja, lalu melupakan urusan yang tidak kalah pentingkannya.
Jika yang seperti ini sudah dilakukan, penulis pikir mulai sekarang shingot ta’liq thalaknya baiknya sudah tidak ditawarkan untuk dibacakan lagi, apalagi terkesan dipaksakan. Baru sudah aqad kok malah langsung cerai, kan ga mecing banget, disa’at justru kata-kata cerai itu harusnya kita buang jauh-jauh dari kepala suami. Lagian kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamtidak pernah meminta kita agar ada acara pembacaan shingot ta’liq thalaq.
Bagaimana mungkin Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallammemerintahkan itu, disa’at yang sama Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallammalah mengatakan bahwa perbuatan halal yang paling dibenci itu adalah thalak (cerai).
Ayo dong, pliss deh, Pak Penghulu, jangan tawarkan saya baca shighatt ta’liq thalaq, karena sepertinya kosa-kata ‘cerai’ sudah hilang dari ingatanku, yang ada hanya bersama, sampai syurga:)
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka [di syurga], dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”
Wallahu A’lam bish Shawab

Oleh: Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA

Rabu, 03 April 2013

Melibatkan Anak Merencanakan Kegiatan


© James Khoo
Berbicara tentang “merencanakan” adalah sebuah seni tersendiri. Bisa jadi kegiatan merencanakan masih asing untuk anak–anak. Namun sesungguhnya hal ini sangat menyenangkan terutama bila dilakukan sambil bermain. Menyenangkan karena dapat mempertemukan imajinasi dan tindakan kongkrit untuk merealisasikan berbagai hal yang hendak dilakukan. Kedekatan antara orang tua dan anak akan terbangun dari sini. Bukan berarti kegiatan merencanakan hanya berhenti sampai tersusunnya list di atas kertas. Namun disini peran orang tua dan tangung jawab seorang anak membentuk kolaborasi untuk dapat merealisasikan perencanaan yang telah dibuat.

Mengajak anak merencanakan kegiatan akan memberikan daya tawar bahwa anak–anak juga dapat berperilaku amanah. Dari sisi orang tua sendiri, ini merupakan momen yang baik untuk dapat menginternalisasikan nilai–nilai Islam. Satu hal penting yang bisa dipetik dari kegiatan ini adalah adanya dialog dengan sang anak tentang “membuat keputusan”. Belajar untuk membuat keputusan sebenarnya membutuhkan keterlatihan. Semakin terlatih dalam membuat keputusan maka semakin berkualitas hasil keputusan yang dibuat. Maka dalam prosesnya seorang anak secara langsung maupun tidak langsung akan belajar menganalisis berbagai kemungkinan. Tentunya analisis ini berada pada level anak–anak. Orang tua hendaknya dapat mendampingi anak-anak dalam memberikan gambaran dan pertimbangan tentang berbagai alternatif yang dimunculkan saat menyusun perencanaan bersama.
Keuntungan dari membuat perencanaan bersama anak
Beberapa keuntungan membuat kegiatan perencanan bersama anak-anak sebagai berikut:
  1. Fokus dan fleksibel
    Apa yang menjadi fokus keluarga tahun ini, berikan berbagai pandangan kepada anak–anak untuk menjadi bahan pertimbangan, sebab bisa jadi sumber daya yang dimiliki keluarga tidak banyak, misalnya dana sedikit hingga waktu yang terbatas.
  2. Komunikasi
    Komunikasi akan mendekatkan jarak antara orang tua dan anak, komunikasi dapat memaksimalkan nuansa saling mendukung untuk tujuan keluarga bersama.
  3. Control
    A
    rtinya dapat mengukur hasil yang sedang berjalan terhadap rencana yang telah dibuat, tak perlu kecewa jika gagal atau salah. Biarkan seorang anak melakukan kesalahan. Kemudian orang tua dan anak dapat melakukan tindakan korektif serta menelaah kembali kegagalan yang terjadi sehingga dapat memperbaiki situasi.
  4. Time management
    Sudah sangat jelas umur kita sangat terbatas sedang kewajiban yang harus kita lakukan banyak sekali, maka silakan membuat perencanaan dengan dasar prioritas.
Contoh membuat perencanaan kegiatan menabung “Idhul Adha”
Kita bisa menggunakan rumus SMART (Specific, Measureable, Realistic, Achieveable, Timed).  Dibawah ini merupakan satu contoh perencanaan kegiatan menabung “idhul adha”. Dengan rumus tersebut beberapa langkah yang yang dilakukan :
  1. Specific (Spesifik)
    Menentukan kegiatan menabung untuk persiapan Qurban Oktober tahun 2013 dengan jumlah dana Rp. 2.000.000,-.
  2. Measureable (dapat dikukur)
    Tentukan jumlah uang saku yang akan diberikan kepada anak. Buat kesepakatan dari total uang saku, berapa prosentase untuk menabung idhul adha (misalnya dana yang ditabung 25-35% dari uang sakunya). Saat kesepakatan sudah diputuskan, orang tua dapat memberikan tambahan dana khusus untuk rencana Qurban.
  3. Achieveable (dapat diraih)
    Perencanaan ini dibuat dengan kesepakatan orang tua dan anak, terlebih dahulu orang tua mengajak berdialog tentang makna berqurban. Tentunya tidak hanya dilakukan sekali saja, bisa berdialoglah berulang–ulang, tidak lelah meladeni pertanyaan anak-anak, orang tua sebaiknya dapat menjawab dengan cerdas dan tepat.
  4. Realistic (realistis)
    Berikan evaluasi sebelum akhir waktu, misal setiap bulan atau tiap dua bulan sekali. Cek kembali tabungan dan hitung kembali masih kurang berapakah dana yang dibutuhkan untuk membeli kambing Qurban. Sudah kah sesuai harapan?
  5. Timed (ada jangka waktunya)
    Mulai menabung Januari 2013 untuk idhul adha oktober 2013. Melakukan kegiatan menabung minimal satu kali transaksi setiap bulan.
Bagaimana, menyenangkan bukan? Silahkan mencoba

Agar Anak Tak Mudah Meniru Artis Idola


Photo © Ramon Abasolo
Masih ingat tidak kalau jaman kita kecil dulu kita pasti punya idola. Kalau yang perempuan biasanya mengidolakan puteri dalam dongeng dan anak laki-laki biasanya mengidolakan superhero jagoan mereka. Namun tanpa kita sadari seiring berkembangnya jaman, idola sang anakpun mulai berubah. Banyak anak-anak yang mengidolakan orang dewasa. Sebenarnya tidak masalah jika yang diidolakan itu bawa dampak yang positif, yang dikhawatirkan adalah sebaliknya. Karena kesukaan pada seorang idola akan menimbulkan fanatisme yang berlebihan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua, untuk meminimalis dampak negatif dari fanatisme terhadap idola sang anak.
  1. Mencari informasi mengenai tokoh idola sang anak. Orang tua harus mencari tahu mengenai latar belakang, sifat, pembawaan, perilaku, dan kehidupan sang idola agar dapat menganalisa bagaimana dampak nantinya bagi sang anak.
  2. Membentuk karakter. Saat seorang anak mengidolakan seseorang, itu tandanya ia sedang dalam proses pembentukan karakter. Pastikan bahwa karakter sang Idola dapat memberi contoh yang baik bagi anak. Kalau toh ada karakter yang kurang baik, orang tua harus memberi penjelasan mengenai hal tersebut.
  3. Menentukan batasan, anak harus tahu bahwa tidak semua tingkah laku sang idola harus ditiru. Beri tekanan bahwa dia harus tetap memiliki karakter yang menunjukkan dirinya sendiri.
  4. Menyesuaikan dengan usia. Anak yang mengidolakan sosok yang lebih dewasa dari dirinya ada kecenderungan untuk meniru, dari segi manapun, baik dari cara berbusana atau berbicara. Beri penjelasan bahwa perbedaan umur juga menentukan perbedaan cara berpakaian atau berbicara. Agar sang anak tetap tumbuh sesuai dengan usianya.
  5. Membedakan yang nyata dan maya. Kemajuan teknologi sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Jelaskan pada anak mengenai hal-hal yang mungkin dan tak mungkin dilakukan sang idola di kehidupan nyata. Misalnya, tidak mungkin kan bangun tidur sang Idola masih tetap cantik dengan make up?
  6. Berpedoman pada norma dan nilai sosial. Berita negatif yang dikabarkan infotaimen mengenai sang idola anak. Jelaskan pada anak bahwa dalam hidup selalu ada aturan yang baik dan kurang baik di mata agama, norma, maupun budaya yang ada pada masyarakat.
  7. Mencegah menjadi fanatik. Sah-sah saja anak memiliki idola, dan ingin mengikuti apa yang dilakukan oleh idolanya. Namun bukan berarti semua hal dari sang idola harus ditiru. Beri penekanan agar tidak terlalu fanatik.
Saat mengidolakan seseorang, anak dalam tahap ingin meniru. Hal ini sah-sah saja, tetapi orang tua tetap harus menjaga agar hal-hal yang ditiru anak adalah hal yang positif. Memberi contoh-contoh prestasi yang telah diraih sang idola, agar anak juga memiliki motivasi untuk berprestasi lebih.
So, Bunda tak perlu khawatir lagi, jika anak keranjingan tokoh idolanya, tapi tetap beri pengawasan pada pergaulan dan perkembangan anak serta ciptakan situasi yang terbuka di lingkungan keluarga.

Mendidik Anak Penyuka Mainan Agar Cinta Buku




republika.co.id
Dalam pengajian Permata kemarin, seorang ibu bertanya kepada Ustadz Khairul Umam, Lc, “Ustadz, bagaimana menanamkan agar anak cinta buku? Anak saya dua orang, umur 9 dan 7 tahun, sangat suka mainan dan tidak suka baca buku. Yang kecil bahkan minta mainan mobil remot sampai menangis-nangis, tidak kami turuti, kami berusaha membelokkan….”
“Cinta buku harus ditanamkan sejak kecil, Bu. Dibiasakan dengan orang tua memberi contoh dan menfasilitasi. Anak kami yang nomor dua, sangat suka menulis cerita dan membaca buku, maka kami fasilitasi untuk dapat memenuhi hobinya dan bahkan kami tidak membelikan HP hingga anak duduk di bangku SMA. Anak-anak diberi pengertian dan mereka dapat mengerti….”
  • Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
    digitalhuda.com/?f1
  • Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
    www.rumahhajidanumrah.com
  • Pusat Belanja Buku Islam Online Lengkap Dan Murni.
    tokopedia.com/tokobukumuslim
  • Film Rasulullah Muhammad SAW, Umar bin Khattab, Nabi Yusuf, Konspirasi Dajjal Akhir Zaman.
    rubystore.wordpress.com/
Ustadz Umam menjawab panjang lebar tentang pengalaman beliau mendidik anak-anak.
Saya tertarik dengan urusan mobil remot itu. Karena Ustadz Umam tidak membahasnya, saya bertanya, “Memang kenapa bu kalau anak suka mainan? Bukannya dunia anak itu dunia bermain? Ingin punya mobil remot bukannya hal yang wajar saja?”
“Masalahnya bu, ia mintanya mobil remot yang besar, harganya lebih dari 300 ribu seperti punya pamannya. Dibelikan yang kecil tidak mau. Saya khawatir kalau dituruti, maka akan merembet kepada mainan lain dan seterusnya. Mempengaruhi orientasi dia…”
“Menurut saya anak-anak jangan hanya berpikir mainan terus, tapi juga agar suka membaca buku…”
Hingga hari ini, saya masih memikirkan percakapan kami kemarin sore itu.Tentang anak dan mainan dan tentang anak dan buku.
Bukankah wajar anak mengingini mainan, karena itulah masa dan dunia mereka. Si orang tua ini harus sampai beberapa kali mengajak anak untuk jalan-jalan agar bisa lupa dengan keinginannya untuk memiliki mobil remot. Katanya berhasil lupa. Eh, sewaktu suatu ketika ke rumah neneknya dan melihat mobil itu lagi, cerita berulang. Dan mereka mulai bertengkar lagi.
Hmm, saya bisa membayangkan situasinya. Sehingga saya membayangkan sebuah dialog imajiner:
“Aku ingin mobil remot yang besar seperti punya paman…” kata si anak.
“O mobil itu ya…? Bagus ya mobilnya… Emang bisa apa saja, Nak?”
“Itu bisa membalik sendiri jika terguling atau menabrak tembok. Bisa melalui jalan yang sulit dan rintangan yang sulit…”
“Ooo keren ya… Pantesan kamu juga ingin, Ummi juga ingin kok… Cuma masalahnya harganya kan tidak murah ya, Nak. Gimana kalau kita menabung dulu… Nanti kalau sudah cukup uangnya, boleh kita belikan mainan yang kamu sukai. Boleh mobil remot yang seperti punya paman, atau yang lainnya…”
“Tapi aku maunya sekarang…!”
“Kamu tahu tidak, Paman itu dulu waktu masih kecil juga pengin mainan mobil-mobilan. Eh, paman menabung tuh dan bekerja… Setelah sebesar dan setua sekarang… Paman baru bisa beli mobil-mobilan itu…berapa lama ya jadinya paman menabungnya…?”
Kebetulan sang paman adalah orang dewasa yang sudah bekerja. Mungkin si anak itu masih akan cemberut. Namun, orang tua dapat membuat penawaran yang lebih realistis.
“Ada mobil remot itu yang harganya Rp. 15 ribu. Kalau kita menabung seminggu dua minggu. Mungkin bisa terbeli. Ada yang Rp. 60 ribu…mungkin kita menabung sekarantg, bulan depan bisa membelinya… Nah, kalau yang besar seperti punya Paman…ya agak lama baru terbeli…..”
Menurut saya, orang tua tidak selayaknya menafikan keinginan anak, walaupun tidak realistis. Berempati akan membuat anak merasa difahami. Alih-alih berempati, kadang orang tua memilih untuk menyampaikan hal yang negatif.
“Mobil mobilan itu tidak ada gunanya. Kamu hanya terbawa pengaruh teman-temanmu yang anak orang kaya… Sebentar saja kamu akan bosan. Kalau kamu tidak bisa merawat, sebentar juga sudah rusak… Lebih baik kamu beli buku. Membaca buku akan membuat kamu pandai…. Buku itu jendela ilmu…”
Betapa sedihnya si anak karena keinginannya tidak dihargai dan mimpinya terpatahkan. Justru dinilai dan diduga akan berlaku buruk, dan dihakimi orang tuanya sendiri. Padahal membangun mimpi adalah dasar untuk anak memiliki obsesi yang tinggi dalam hidupnya.
Coba jika orang tua mau memperpanjang dialog.
  1. Memulai dengan persetujuan bahwa mobil remot itu memang bagus dan hebat.
  2. Mengahargai bahwa anak boleh ingin memiliki sesuatu sekalipun itu barang mahal.
  3. Mengajak anak realistis dengan kondisi sekarang dan mengajarkan kesabaran untuk berproses.
  4. Mengajari anak untuk rajin bekerja keras dan menabung untuk mewujudkan keinginan.
  5. Mengkaitkan dengan pintu rejeki seperti berbuat baik, shadaqoh, rajin shalat, dan sebagainyauntuk memperluas pintu rejekinya.
  6. Mengajari berdoa dan tawakal bersama dengan kerja kerasnya.
Ah, mungkin Anda bisa menambahkan proses kebaikan lain selama membangun mimpi itu.
Pada saatnya, akan mudah bagi Anda untuk membelokkan pada membeli barang yang lebih bermanfaat bagi anak. Tentu atas persetujuan si anak.
Yang penting adalah menjadikan anak dekat dan merasa dipahami. Dengan demikian apa yang kita sarankan akan diterima. Pada saat anak ditolak dan marah, ia bahkan tidak bisa mendengarkan nasehat apapun. apalagi memaksa ia untuk berbelok 180 derajat kepada hal lain.
Hmm, saya tidak sedang menghakimi atau menggurui. tapi coba bayangkan kesudahan dua cerita yang berbeda 30 tahun lagi. Anak yang ditolak mungkin akan berkata kepada anaknya :
“Dulu ayah ingin mobil-mobilan yang sangat bagus. Tapi nenekmu tidak mengijinkan. Ayah malah dimarahi dan dipaksa untuk menyukai buku. Jadi kamu sekarang boleh membeli mainan apa saja, agar tidak merasa sakit hati seperti ayah dulu….”
Ia balaskan dendam kepada orang tuanya dalam bentuk sebaliknya. Atau justru ia berkata begini:
“Dulu ayah ingin mobil remot yang sangat bagus. Tapi nenekmu tidak mengijinkan. Jadi kamu juga harus tahu bahwa tidak setiap keinginan harus dituruti. Kamu jangan hanya minta mainan terus, tapi kamu harus menyukai buku…”
Bandingkan dengan anak yang difahami ortunya:
“Ayah dulu pernah sangat ingin mobil remot. Mobilnya bagus sekali. nenekmu juga setuju bahwa mobil remot itu memang bagus dan hebat. Tapi nenek mengajari untuk ayah belajar menabung dan bekerja keras untuk mewujudkan suatu cita-cita. Tak lupa juga berdoa. jadi sejak saat itu, ayah betul-betul hemat dan rajin menolong agar mendapat uang tambahan. selain itu ayah juga berdoa. Alhamdulillah, uangnya terkumpul cukup untuk membeli mobil itu. Namun, saat mau membelanjakannya, ayah memilih untuk membeli seragam futsal dan sepatu karena ayah sudah tidak lagi mengingini mobil tersebut…”
Apa pelajaran dari dialog imajiner diatas…..? Silahkan disimpulkan sendiri.Yang jelas mendidik anak adalah ramuan unik yang harus Anda temukan. karena setiap anak adalah unik dan istemewa, Anda yang harus merawat jiwanya agar tumbuh sehat dan sempurna.
Ida Nur Laila

Selasa, 05 Maret 2013

Mendengarkan dan Memahami Perempuan

islamatbrown
Perempuan hidup dalam dunia yang didominasi oleh laki-laki. Dominasi selalu membuat pihak lain terkesampingkan atau termarginalkan. Dalam hal ini ada kecenderungan perempuan untuk termarginalkan oleh laki-laki. Laki-laki dari dulu sampai sekarang masih menjadi mayoritas dalam urusan yang berkaitan dengan kehidupan manusia secara keseluruhan. Jumlah presiden, politisi, ilmuwan, ekonom, dokter, teknolog, dan pebisnis yang berjenis kelamin laki-laki sampai saat ini masih lebih banyak jika dibandingkan dengan perempuan. Hal ini menjadikan perempuan tidak dapat menentukan nasib diri mereka secara keseluruhan, karena laki-laki selalu ada untuk memutuskan dan memecahkan masalah ‘bersama’.

Perempuan terkesan dinomorduakan, karena kekurangan penyalur opini yang mampu membuat kebijakan untuk mereka. Hal ini diperparah dengan adanya isolasi sosial antara laki-laki dan perempuan. Perempuan pada dasarnya makhluk yang suka dengan hubungan. Mereka ahli dan menikmati proses membangun hubungan. Hal ini terbukti dari mudahnya mereka mengakrabkan diri dengan berbagai jenis manusia, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, sampai orang tua. Mereka selalu membangun dan memperbarui hubungan mereka. Secara hemat seharusnya perempuan membangun hubungan juga dengan laki-laki (dalam hal ini yang berumur dekat) juga, bukan?
Laki-laki seharusnya menjadi partner yang sederajat dengan perempuan, namun ada beberapa faktor yang membuat hal tersebut sulit dilaksanakan. Perempuan dalam taraf tertentu takut berhubungan dengan laki-laki, karena faktor kekuatan dan kebebasan laki-laki itu sendiri. Selama ini laki-laki dianggap lebih dominan (atau kuat) secara fisik maupun mental, namun secara egoistis laki-laki tidak menggunakan dominasi tersebut untuk mendukung perempuan. Alih-alih mendukung perempuan dengan kelebihan dirinya, laki-laki malah sibuk memamerkan kekuatannya. Pamer kekuatan ini bukan jenis pertunjukkan yang dinikmati perempuan, ketika adegan yang muncul bersifat mengganggu perasaan atau mengeksplotisasi mereka, seperti menggoda perempuan tak dikenal, membicarakan hal tentang tubuh perempuan, atau bahkan dalam taraf kriminal sampai pada perkosaan.
Pamer kekuatan ini dengan mudah diartikan sebagai upaya dominasi laki-laki terhadap tubuh perempuan. Upaya ini jelas memarginalkan perempuan. Melihat perempuan hanya dari tubuhnya sama dengan tidak mengakui diri mereka secara utuh: Dimana perasaan lembut mereka? Pemikiran konstruktif mereka? Kesabaran mereka? Laki-laki yang mendekati perempuan hanya untuk menjajah tubuh mereka bukan jenis laki-laki yang mampu menjadi partner bagi perempuan.
Penyalahgunaan yang kedua berkaitan dengan kebebasan laki-laki. Laki-laki secara alamiah bisa berpergian dengan jarak jauh, bahkan sampai tidak kembali kepada pasangannya. Perempuan tidak bisa seperti itu. Dalam hidupnya perempuan selalu berada dalam komunitas yang melindungi mereka, mulai dari keluarga kandung, kelompok pertemanan, sampai keluarga yang dibentuk dengan pernikahan. Perpindahan perempuan selalu dikaitkan dengan izin dari orang lain.
Saat memilih pasangan, perempuan secara sadar (bukan atas paksaan pihak di luar mereka) meminta persetujuan dari orang terdekat perempuan tersebut, seperti ibu mereka, ayah mereka, sahabat mereka, bahkan sampai lingkungan tempatnya berada. Perempuan tidak sebebas laki-laki dalam memilih pasangan. Laki-laki bisa saja selingkuh atau berhubungan dengan perempuan lain secara amoral atau illegal, tetapi pihak yang direndahkan anehnya bukan laki-laki sumber penyelewengan tersebut, tetapi malah perempuan yang menjadi partner penyelewengan laki-laki.
Menjadi playboy seolah kebanggaan bagi laki-laki, bahwa ia punya daya tarik tinggi, tapi menjadi perempuan yang ditaksir laki-laki, diduakan laki-laki, atau memberi kesempatan mudah untuk didekati oleh mereka bukan suatu kebanggaan. Raja yang beristri banyak dianggap hebat, sedangkan perempuan yang punya hubungan dengan laki-laki dianggap – maaf – murahan. Bahkan, dalam hubungan yang legal, perempuan yang sudah pernah berhubungan dengan laki-laki sebelumnya (karena perceraian atau suaminya meninggal) dianggap tidak lagi menarik bagi laki-laki. Dengan alasan tidak masuk akal janda selalu dianggap lebih rendah ketimbang gadis.
Faktor kekuatan dan kebebasan yang disalahgunakan akhirnya membuat perempuan menciptakan tabir dengan laki-laki. Inilah yang membuat mereka menjadi terisolasi dengan laki-laki, karena ada ketakutan dari perempuan akan penyalahgunaan kekuatan dan kebebasan laki-laki. Perempuan sangat menghargai komitmen. Kekuatan yang menghancurkan dan kebebasan yang tidak bertanggung jawab merusak komitmen awal perempuan untuk berhubungan dengan laki-laki.
Isolasi ini memperparah dominasi laki-laki. Kecenderungan kemudian akhirnya perempuan melegalkan dan menganggap wajar dominasi buruk laki-laki tersebut. Bukannya mengungkapkan ketidaknyamanannya, perempuan dalam kelompok mereka malah membebaskan laki-laki untuk berbuat seenaknya. Berapa sering kita mendengar ketika kasus perkosaan, malah perempuan yang dianjurkan menjaga diri? Mengapa tidak ada anjuran bagi laki-laki untuk menjaga hasrat seksualnya? Malah sebaliknya sang korban yang diberi beban lebih untuk melindungi diri.
Sudah saatnya laki-laki berhenti menyalahgunakan kekuatan dan kebebasan yang diberikan Allah SWT. Dia tidak berniat buruk dengan memberikan kekuatan dan kebebasan untuk laki-laki. Dengan kekuatan laki-laki dapat memperjuangkan keluarganya, dan dengan kebebasan mereka dapat mencari nafkah untuk istri tercinta di rumah. Aspek penjajahan terhadap tubuh perempuan harus hilang. Jika laki-laki tidak bisa berhenti, jangan pernah membebani lebih kepada perempuan, tetapi keluarga dan lembaga pendidikan harus mendidik laki-laki untuk memanfaatkan kekuatan dan kebebasannya untuk kepentingan perempuan. Jika laki-laki tidak dapat berhenti, mereka paling tidak dapat dihentikan dengan pendidikan dan pembimbingan menyeluruh.
Masalah isolasi sosial juga harus dihilangkan. Perempuan harus berani mengungkapkan setiap besit ketidaknyamanan mereka terhadap laki-laki. Jika sang laki-laki tidak mau mendengarkan, perempuan dapat bercerita kepada orang tua, wali, polisi, atau pemerintah. Mereka yang dapat melindungi perempuan dari ketidaknyamanan laki-laki harus dicari sampai ditemukan.
Kemudian tugas laki-laki selanjutnya adalah mendengarkan curhat perempuan. Seharusnya ada pendidikan (bisa tersurat atau tersirat) yang mengajarkan laki-laki untuk mendengarkan perempuan. Mereka harus diajarkan untuk nyaman dan membuat nyaman lawan jenisnya. Laki-laki harus sadar bahwa dalam mendegarkan perempuan, mereka tidak perlu memberikan solusi atau merasa tersaingi. Pada dasarnya perempuan bercerita bukan untuk mendominasi laki-laki (meskipun perempuan berhak untuk ‘membalas dendam’ atas dominasi laki-laki di luar sana), tetapi pada dasarnya mereka bercerita untuk meminta pemahaman dan ekspklorasi emosional dari laki-laki.
Laki-laki yang sering dijadikan pemecah masalah dan pengambil keputusan akhirnya selalu terfokus untuk menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah itu terkait erat dengan penggunaan logika. Padahal, yang dibutuhkan untuk mendengarkan perempuan bukan logika, tetapi perasaan.
Banyak laki-laki yang salah sangka, ketika perempuan bercerita kepada mereka. Mereka menganggap perempuan bercerita sebagaimana pelanggan komplain kepada pelayan restoran. Perempuan dianggap mengeluh dengan apa yang dia tidak dapatkan dari laki-laki. Di sisi lain ada juga anggapan bahwa saat perempuan bercerita, mereka tidak tahu bagaimana solusi dari permasalahan. Padahal, semua perempuan bisa menemukan solusi, sebagaimana laki-laki. Tidaklah mungkin semua perempuan yang beberapa di antaranya berpendidikan bercerita untuk  meminta solusi. Lebih mungkin mereka berusaha meminta pemahaman dari pendengarnya.
Laki-laki harus berhenti dari dunia persaingan mereka, ketika mereka berhadapan dengan perempuan, dan mulai memahami perempuan dengan perasaan mereka sendiri. Memang bagi laki-laki butuh penyesuaian, bahkan latihan, namun di sanalah peran keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Berbagai pihak dapat mengajarkan bagaimana kiat mendengarkan yang baik, terutama melalui empati.
Pada akhirnya hubungan antar jenis kelamin tidak berdasarkan pada kesetaraan gender, melainkan pada kesesuaian gender. Dan, kesesuaian gender tidak dimulai dari perempuan, tetapi justru dari laki-laki. Mereka harus sadar pentingnya mendengarkan perempuan dengan hati (bukan dengan logika atau untuk menyelesaikan masalah perempuan).
Sementara laki-laki mendengarkan perempuan, mereka dapat meresapi dan mengekslorasi jiwa perempuan, tanpa harus merasa tersaingi. Semenjak awal hingga pada akhirnya perempuan tidak punya niat untuk bersaing, mereka hanya ingin dipahami dan didengarkan. Ketika laki-laki sadar pentingnya mendengarkan perempuan, sudah bukan waktunya perempuan menjadi partner bagi laki-laki, tetapi laki-laki yang justru harus belajar untuk menjadi partner perempuan.

Oleh: Ahmad Tombak Al Ayyubi, Depok

Batasan Aib dalam Pernikahan


Photo © Jeremy Brooks
Tak ada gading yang tak retak. Itulah pepatah yang mungkin paling layak untuk dijadikan prinsip ketika hendak menentukan pasangan. Bahkan terkadang masing-masing pihak bersih kukuh mempertahankan prinsip idealisme perfectionits, yang justru memperpanjang usia bujang.
Di sisi lain, ada juga pasangan yang menikah melalui proses ta’aruf yang sangat singkat atau proses ta’aruf dengan data yang sangat terbatas. Setelah layar terkembang, masing-masing saling mengenal sifat dan karakter pasangannya, muncullah berbagai permasalahan. Bahkan sampai ada yang merasa tertipu dengan pasangannya. Mungkin pernah kita jumpai ada suami yang mengembalikan istrinya kepada orang tuanya, karena merasa ada aib besar pada istrinya, dan sebaliknya.

Nah.., agar hal semacam ini tidak disikapi berlebihan, kita perlu tahu apa batasan aib dalam pernikahan, sehingga ketika aib ini tidak disebutkan dalam proses ta’aruf, masing-masing pihak berhak untuk memilih, apakah dilanjutkan ataukah berpisah.
Dalam Fatwa Islam, tanya jawab, dilayangkan sebuah pertanyaan, bahwa ada seorang wanita yang mengalami ovariectomy, apakah dia harus menceritakan kepada calon suami yang meminangnya?
Syaikh Muhamad Sholeh Al-Munajed menjelaskan:
Jika ovariectomy yang dia alami tidak menghalanginya untuk punya anak, karena ovarium yang lain masih berfungsi dengan baik maka dia tidak wajib memberitahukan lelaki yang meminangnya. Karena batasan aib dalam nikah yang wajib untuk disampaikan dalam proses ta’aruf adalah segala keadaan yang bisa menyebabkan hilangnya 3 tujuan utama pernikahan, yaitu mut’ah (kenikmatan), khidmah (pelayanan), dan injab (tidak mandul). Hanya saja, sebaiknya semacam ini disampaikan kepada orang yang melamar, untuk menghindari munculnya berbagai permasalahan selanjutnya, karena suami merasa bahwa sikap istrinya termasuk penipuan. (Fatwa Islam: Sual-jawab, no. 125910).
Selanjutnya, beliau menukil keterangan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin:
Aib adalah segala keadaan yang menghilangkan tujuan utama nikah. Dan dipahami bersama bahwa tujuan utama diantaranya adalah mut’ah (kenikmatan), khidmah (pelayanan), dan injab (tidak mandul). Tiga hal ini adalah tujuan yang paling utama. Jika ada keadaan yang menghalangi tiga hal di atas maka itu termasuk cacat. Oleh karena itu, jika seorang istri menjumpai suaminya ternyata mandul atau suami mendapati istrinya mandul maka ini termasuk aib. Atau suami baru tahu ternyata istrinya buta maka ini juga aib, karena pasangan yang buta akan mengurangi dua tujuan nikah, mut’ah (kenikmatan) dan khidmah (pelayanan). Demikian pula ketika suami baru tahu ternyata istrinya tuli atau bisu, ini juga termasuk aib.
Akan tetapi jika suami baru mengetahui ternyata gigi istrinya bermasalah, padahal masih muda maka ini tidak termasuk aib. Karena aib semacam ini mungkin untuk dihilangkan. Sementara kebutuhan suami terhadap gigi istrinya adalah kesempurnaan kecantikan, dan masih mungkin untuk dipasang gigi sebaik mungkin. Untuk itu, jika ada orang yang bertanya: Apabila ada suami yang baru mengetahui ternyata istrinya kurang cantik, tapi tidak ada cacat seperti yang disebutkan di atas, apakah suami boleh mengajukan cerai ke pengadilan? Jawab: Tidak berhak. Kecuali jika suami mempersyaratkan hal itu di depan.
Karena itu yang tepat, aib dalam nikah jumlahnya tidak terbatas dengan bilangan tertentu, tapi dia dibatasi dengan kaidah tertentu, bahwa segala sesuatu yang menghilangkan tujuan utama nikah, meskipun bukan kesempurnaan nikah maka itu termasuk aib, yang membolehkan adanya hak pilih. Baik untuk suami maupun untuk istri. (As-Syarhul Mumthi’, 12: 220 – 221)
Allahu a’lam

Redaktur: Tata Rifa
Sumber: Ustadz Ammi Nur Baits | Muslimah.or.id

Pernikahan Adalah Perjanjian Yang Agung


Google Image / Blogspot
Sebuah pernikahan di bangun dalam sebuah ikatan yang suci. Ia tidak hanya sekedar menyatukan dua insan yang berbeda, tapi juga menyatukan dua keluarga besar yang berbeda kultur dan budaya. Bahkan Allah menyebut pernikahan dengan Mitsaqan Gholidzo (Perjanjian yang kuat)
Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, Padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu Perjanjian yang kuat. (QS. An-Nisa:21)
Bahkan di dalam Al-Quran hanya 3 kali Allah menyebutkan Mitsaqan Gholidzo (Perjanjian yang kuat).
Yang pertama yang tersebut diatas, QS An-Nisa: 21 yang menyebut pernikahan adalah sebuah perjanjian yang kuat/teguh/kokoh.
Yang kedua terdapat dalam QS An-Nisa: 154, Ini adalah perjanjian Allah dengan orang-orang yahudi.
Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) Perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. dan Kami perintahkan kepada mereka: “Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud”, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu”, dan Kami telah mengambil dari mereka Perjanjian yang kokoh. (QS An-Nisa: 154)
Yang ketiga terdapat dalam QS Al-Ahzab:7, ini adalah perjanjian Allah dengan para Nabi.
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil Perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka Perjanjian yang teguh. (QS Al-Ahzab:7)
Begitu sakralnya sebuah pernikahan hingga Allahpun menyamakan perjanjian tersebut dengan perjanjian-Nya dengan para Nabi. Dengan mitsaqon gholidzo (Perjanjian yang kokoh) ini, seorang laki-laki dan seorang wanita menjadi sepasang suami istri setelah sebelumnya mereka hidup terpisah sebagai seorang individu. Memang dalam hitungan mereka itu berbilang, namun pada hakikatnya mereka itu satu. Al Qur’an pun telah menggambarkan kuatnya ikatan antara sepasang insan ini:
“Para istri itu adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka.” (QS.Al Baqoroh: 187)
Ayat yang mulia di atas merupakan ungkapan kedekatan antara keduanya. Masing-masing saling merasakan ketenangan dan saling menutupi dari apa yang tidak halal. (Al Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 1/211-212 , Tafsir Ibnu Katsir, 1/226).
Dalam bahasa Jawa pun istri disebut garwa atau sigaraning nyawa. Sebuah kata yang menarik sekali dan menurut saya juga sangat puitis sekali. Ini juga bisa berarti istri adalah detak jantung kita yang berdetak di tempat lain, istri adalah nafas kita yang berhembus di di lain tempat. Jadi jangan pernah macam-macam dengan sebuah pernikahan.
Sebagai dua insan yang sebelumnya hidup di tempat yang berbeda, kultur dan budaya yang berbeda bahkan mungkin dua insan yang memiliki cara pandang dan berpikir yang berbeda pula. Dari sinilah yang kadang membuat sebuah keluarga tidak selau harmonis. Tidak selamanya sebuah bahtera rumah tangga akan berlayar dalam lautan yang tenang. Tak jarang riak gelombang menghantam bahtera kita yang bisa membuat kita terpontang-panting tidak karuan. Dahsyatnya gelombang tersebut tak jarang membuat sebuah bahtera rumah tangga kandas di tengah jalan. Hancur berkeping-keping, sehingga tidak bisa berlabuh di dermaga kebahagiaan.
Pernikahan di bangun bukan atas dasar persamaan, tetapi dibangun untuk menyatukan perbedaan. Sungguh naif sekali jika sebuah perceraian terjadi hanya karena sudah tidak cocok lagi, karena banyak perbedaan atau bahkan hanya karena materi. Sebuah perbedaan tentu masih bisa dikompromikan-asal tidak bertentangan dengan agama-mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai.
Mitsaqan Gholidzo (Perjanjian yang kuat), dengan perjanjian ini maka sebuah pernikahan tidak dibangun hanya untuk 1-2 hari saja, atau 1-2 tahun saja. Sebuah perjanjian yang disaksikan para Malaikat. Akankah berakhir hanya karena sebuah perbedaan? Tentu saja tidak. Kecuali motif awal nikahnya sudah salah.
Oleh: Agus Alfattan, Surabaya

Rabu, 19 September 2012

Untuk Siapa Pendidikanmu?

Untuk Siapa Pendidikanmu?

Menurut Prof. HAR. Tilaar “Pendidikan memiliki dua dimensi yang saling bertautan. Pertama, pendidikan merupakan hak asasi manusia (HAM). Kedua, pendidikan merupakan suatu proses. Sebagai HAM berarti manusia tanpa pendidikan tidak dapat mewujudkan kemanusiaanya, pendidikan sebagai proses berarti manusia tidak dapat terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan suatu proses kemanusiaan dalam kebersamaan dengan sesama manusia.
Pendidikan memang menjadi bagian aktifitas yang tidak dapat terpisahkan dari  kehidupan manusia. Mulai dari bayi hingga tua renta, seorang manusia melewati berbagai macam fase pendidikan, mulai dari lingkungan keluarga, kemudian ke lingkungan sekolah, dan mencapai lingkungan yang jauh lebih besar yaitu lingkungan masyarakat.
Saat ini strata pendidikan tertinggi adalah seorang doktor. Baik kaum laki–laki ataupun perempuan banyak yang telah menempuh pendidikan doktor di perguruan tinggi negeri maupun asing. Banyak orang beranggapan kita melalui fase pendidikan tinggi untuk mendapatkan suatu pekerjaan yang layak. Semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin tinggi pula upah kerja yang dapat diterima. Paradigma kerja hari ini bukan lagi usaha untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, tetapi lebih mengedepankan gengsi, dan kehormatan. Perkara seperti ini tidak jarang mengorbankan sesuatu yang lebih penting untuk dilakukan, terutama bagi para kaum ibu.
Banyak kita temukan dewasa ini “broken home” didasari oleh tiadanya waktu orang tua untuk anak–anak mereka. Orang tua lebih sibuk bekerja, dan menyerahkan anak sepenuhnya kepada pembantu mereka di rumah. Kebanyakan dari mereka adalah orang tua dengan jenjang pendidikan yang tinggi.
Bayangkan seorang ibu yang berpendidikan tinggi, menyerahkan kepada pembantu yang kebanyakan tidak sekolah untuk membina anaknya di rumah. Pendidikan pertama anak di lingkungan rumah tidak mendapatkan pendidikan yang maksimal. Jadilah anak-anak hasil didikan para pembantu, bukan didikan seorang ibu. Pendidikan tinggi yang telah didapatkan oleh kedua orang tuanya terasa menjadi sia–sia jika sang anak malah tidak merasakan manfaatnya sama sekali, karena kedua orang tuanya (terutama ibu) lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan membina pertumbuhan anak.
Seandainya saja seorang anak  dididik oleh ibu yang bergelar doktor, tentu hasil didikanya akan jauh berbeda dengan didikan seorang pembantu. Lingkungan rumah yang menjadi pondasi dasar pendidikan sang anak harus dimaksimalkan dengan memberikan bimbingan yang terbaik. Dalam hal ini saya sangat sepakat dengan program Ayah Edy yaitu “ Indonesian Strong From Home”. Pendidikan anak itu berasal dari rumah (rumah tangga) untuk membangun sebuah rumah baru (rumah tangga).
Pendidikan itu bukan untuk mencari kekayaan dunia, pendidikan juga bukan untuk mendapatkan suatu jabatan yang tinggi. “pendidikan itu harus kita tujukan atau dasarkan pada kebaikan–kebaikan yang telah di tentukan oleh Syariat Islam supaya yang kita didik itu menjadi orang yang sopan atau disebut sebagai bangsa yang mulia dan tinggi derajatnya, “ (KHR. Zainuddin Fananie). Lalu untuk siapa gelar sarjanamu, dirimu, orang lain, atau anak-anak mu?

Selasa, 18 September 2012

Mengasah Kecerdasan Anak Dengan Mnulis


Setiap orang tua pasti mendambakan anak-anaknya terlahir cerdas. Dan pelbagai cara pun dilakoni untuk mewujudkannya, mulai dari memberinya makanan bergizi untuk asupan otaknya, menstimulasinya dengan bermacam-macam permainan (brain games), hingga ada juga orang tua yang memasukkan bayinya ke sekolah bayi karena khawatir tak lebih mampu mendidiknya menjadi cerdas. Semua hal tersebut tidak masalah untuk dilakukan mengingat pentingnya stimulus-stimulus perangsang kecerdasan untuk membentuk seorang anak menjadi pribadi yang siap menghadapi dunia di saat dewasa kelak.
Anak-anak adalah insan yang menyukai hal baru, ia menyenangi aktivitas belajar dengan melakukan berbagai tingkah yang lucu, celoteh tanya yang super cerewet, bahkan kelakuan yang kadang membahayakan dirinya sendiri. Sebagai orang tua, alangkah bijaksana jika turut mendukung rasa ingin belajarnya yang tinggi. Misalnya dengan membacakannya buku cerita, menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan konyolnya, atau menemaninya bermain.
Menulis, Mengasah Kecerdasan
Menulis adalah salah satu aktivitas yang mampu mengasah kecerdasan sang anak, sekaligus sebagai wadah positif dalam menyampaikan gagasan-gagasan yang ia miliki. Anak yang terbiasa menulis menjadi lebih kritis terhadap dinamika kehidupan sosial di sekelilingnya, tidak hanya itu, anak juga terlatih untuk berpikir memecahkan masalah. Bahkan ada sebuah ungkapan yang dilontarkan sahabat Umar bin Khattab tentang seni berbahasa ini, “Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.”
Apa yang dikatakan oleh sahabat Umar ini ada benarnya, karena dalam sirah nabawiyah banyak  kita dapati kisah-kisah para sahabat yang menyenandungkan syair dalam medan perang atau pada masa krisis, seperti yang dilakukan oleh sahabat Rasul, Abdullah bin Rawahah ketika umat muslim bersama Rasul hendak melakukan umrah qadha[1] sementara orang-orang musyrik berbaris menghadangnya,
biarkan orang-orang kafir di atas jalannya
biarkan kebaikan di tempatnya
yang pengasih telah menurunkan wahyu
kepada rasul-nya yang dibaca setiap waktu
ya rabb, aku tetap orang mukmin sejati
yang mengetahui hak allah secara dini
kematian terbaik adalah jalannya
hari ini kami pukul kalian dengan wahyu-nya
pukulan yang bisa memenggal kepala
meninggalkan kekasih yang tercinta
Menulis juga mampu mengasah kepekaan sosial anak, seperti yang terjadi pada penulis cilik yang kini mulai beranjak remaja, yaitu Abdurrahman Faiz, putra sulung dari penulis kondang Helvy Tiana Rosa. Ratusan karyanya telah banyak menginspirasi, puisi yang diciptakannya bermuatan dengan nilai-nilai sosial yang menyentuh, buah dari kegelisahan hatinya terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Karya-karyanya dapat dibaca dari buku-bukunya, seperti Faiz untuk Bunda dan Dunia (2004), Guru Matahari (2004), Aku Ini Puisi Cinta (2005), dll.
Masih banyak manfaat yang dipetik jika sejak dini anak telah diperkenalkan dunia menulis. Lalu, bagaimana mengasah kemampuan menulis pada anak? Lebih penting manakah; mengajarinya menulis atau membaca? Dua-duanya penting dan dua-duanya perlu dikenalkan kepada anak.
Cara yang baik untuk memupuk rasa cintanya pada dunia menulis adalah memupuk rasa cintanya kepada membaca. Karena jika menulis saja tanpa didampingi kegemaran membaca, sama saja mengajari anak ilmu “ghaib”, ia tidak bisa menyerap informasi dari bacaan untuk dituangkan kembali dalam tulisan berdasarkan gagasannya sendiri. Dengan membaca, dunia informasi terbuka lebar untuknya, sehingga banyak hal yang dapat ia tulis dan ia pikirkan tentang gagasan-gagasan baru yang mungkin muncul.
Membacakan buku kepada anak adalah langkah awal untuk membuatnya cerdas. Orang tua dapat memupuk kegemaran membaca sang anak dengan sering-sering membacakannya buku cerita, bahkan sejak sebelum sang anak dapat membaca. Karena point penting dalam memancing anak gemar membaca adalah dengan memancing kecintaannya terhadap buku. Jika orang tua terbiasa membacakannya buku-buku yang menarik dari segi gambar, jalan cerita, kombinasi warna gambar dalam sebuah buku, ditambah dengan kebiasaan orang tua yang memperlihatkan aktivitas membaca di depan anak, maka kecintaan anak terhadap buku dan kegemarannya membaca buku akan tumbuh dengan subur.
Membuat Anak Gemar Membaca[2]
Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat anak mencintai buku dan terbiasa menghabiskan sebagian besar waktunya dengan buku yang dia sukai, karena kegemaran anak dalam membaca timbul karena ketergantungannya terhadap buku. Misalnya membelikannya buku-buku yang lebih banyak berisikan gambar-gambar yang disukai anak, seperti gambar binatang, tumbuhan, pesawat, dan lain sebagainya. Selanjutnya anak akan membentangkan buku tersebut dan mewarnai gambar yang ada di dalamnya.
Orang tua hendaknya menemani anak dalam membeli buku, dan membiarkan anak memilih sendiri buku yang diinginkannya di dalam toko buku. Ketika anak memasuki usia sekolah sebaiknya dibuatkan perpustakaan mini bagi anak, yang di dalamnya terdapat buku-buku dongeng yang berisikan gambar dan berisikan majalah-majalah khusus anak-anak. Selanjutnya bantulah anak untuk membaca dan mendiskusikan buku tersebut. Pujilah kisah yang diceritakan oleh anak yang dia nukil dari buku, agar ia semakin suka membaca.
Sebaiknya anak dibiasakan gemar untuk duduk di atas bangku (kursi) sejak kecil, khususnya setelah dia mulai masuk sekolah, karena sikap seperti itu dapat membuat anak meraih prestasi dalam hal pelajaran sekolah. Juga, karena hal tersebut dapat membantu anak untuk dapat konsentrasi, dapat memilah waktu yang tepat untuk mengulang pelajaran, dan dapat memperhitungkan waktu dan mengaturnya.
______________
[1] Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, 1997, Sirah Nabawiyah, Pustaka Al Kautsar, Jakarta
[2] Muhammad Husain, 2007, Agar Anak Mandiri (Ath-thifl wa Iktisaab Al Ma’ayisy wa Ash-Shifat), Irsyad Baitussalam, Bandung