Senin, 27 Februari 2017

DUA KEBAIKAN & KEBURUKAN YANG SEGERA DIBALAS

Dari Aisyah ra, Rasulullah bersabda: "Kebaikan yang segera di ganjar; pertama berbuat baik dan kedua, menyambung tali silaturahim. Sedang keburukan yang segera dibalas; pertama, kekejian dan kedua, memutus tali silaturahmi." (HR. Ibnu Majah)
     "Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mereka takut kepada Tuhannya." (QS. Ar Ra'd: 21)
     "Sesungguhnya perbuatan yang terbaik adalah menyambung hubungan kerabat dengan sahabat orang tuanya."  (Shahihul Jami', Al Albani)
     Sesungguhnya Allah Swt menciptakan makhluk sehingga setelah selesai menciptakan mereka, maka rahim berdiri dan berkata: "Ini adalah kedudukan yang tepat bagi orang yang berlindung dari memutuskan hubungan silaturahim," Allah Swt berfirman: "Benar, bukankah engkau senang jika Aku menyambung orang yang menyambung silaturahim dan saya memutus orang yang memutuskan silaturahim." Dia berkata: "Ya" Allah Swt berfirman: "Itulah permohonanmu yang Aku kabulkan." (Al Hadis)
°°°| RAHMAH |°°°

Sarat seorang menjadi imam dalam sholat berjama'ah?

Yang berhak menjadi imam bagi suatu kaum dalam shalat berjama'ah menurut sunnah Nabi Muhammad saw. adalah orang yang paling ahli dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an dan paling mengerti hukum-hukum fiqih. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Abu Mas'ud Al-Badri:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ وَأَكْثَرُهُمْ قِرَاءَةً. فَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَتُهُمِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً . فَإِنْ كَانُوْا فِي الْهِجْرَةِ سَوًاءً فَأَكْبَرُهُمْ سَنًّا .

"Yang boleh mengimami kaum itu adalah orang yang paling pandai di antara mereka dalam memahami kitab Allah (Al Qur'an) dan yang paling banyak bacaannya di antara mereka. Jika pemahaman mereka terhadap Al-Qur'an sama, maka yang paling dahulu di antara mereka hijrahnya ( yang paling dahulu taatnya kepada agama). Jika hijrah (ketaatan) mereka sama, maka yang paling tua umurnya di antara mereka".

Sahabat Nabi saw. yang paling banyak memahami kitab Al-Qur'an adalah orang yang paling banyak pengetahuannya terhadap fiqih. Karena mereka membaca ayat Al-Qur'an dan mempelajari hukum-hukumnya. Oleh karena shalat itu memerlukan keabsahan kepada bacaan Al-Qur'an dan fiqih, maka orang yang ahli membaca Al-Qur'an dan ahli fiqih harus didahuuan daripada selainnya.

Jika salah seorang di antara para ma'mum lebih pandai membaca Al-Qur'an dan lebih pandai dalam fiqih, maka dia didahulukan dari pada lainnya.

Jika salah seorang di antara para ma'mum pandai dalam bidang fiqih, sedang yang lain lebih pandai membaca Al-Qur'an, maka yang lebih pandai fiqih adalah lebih utama. Karena barangkali dalam shalat tersebut terjadi sesuatu kejadian yang memerlukan kepada ijtihad.

Jika ada dua orang yang sama pandainya dalam bidang fiqih dan bacaan Al-Qur'an, dalam hal ini ada dua pendapat:

    Imam Asy-Syafi'i dalam qaul qodim berpendapat: "Yang didahulukan adalah orang yang lebih mulia kedudukannya dalam masyarakat, lalu orang yang lebih dahulu hijrahnya, kemudian orang yang lebih tua umurnya; dan inilah pendapat yang lebih kuat.

    Orang yang lebih dahulu hijrahnya lebih didahulukan dari pada orang yang lebih tua umurnya adalah berdasarkan hadits dari Abu Mas'ud Al-Badri.

    Tidak ada perbedaan pendapat mengenai orang yang mulia kedudukannya di masyarakat lebih didahulukan dari pada orang yang lebih dahulu hijrahnya.

    Jika orang yang lebih dahulu hijrahnya lebih didaulukan dari pada orang yang lebih tua umurnya, maka mendahulukan orang yang lebih mulia keduduknya di masyarakat daripada orang yang lebih dahulu hijrahnya adalah lebih utama.
    Dalam qaul jadid Imam Asy-Syafi'i berpendapat bahwa orang yang lebih tua umurnya harus didahulukan, kemudian orang yang lebih mulia kedudukannya di masyarakat, kemudian orang yang lebih dahulu hijrahnya. Hal ini berdasarkan riwayat Malik bin Huwairits bahwa Nabi Muhammad saw. telah bersabda:

    صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي وَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ .

    "Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kamu sekalian melihat aku melakukan shalat. Hendaklah salah seorang dari kamu melakukan adzan untuk kamu sekalian, dan hendaklah orang yang paling tua di antara kamu mengimami kamu sekalian".

Mendahulukan orang yang umurnya lebih tua, adalah karena orang yang lebih tua itu lebih khusyu' dalam shalat, sehingga lebih utama.

Umur yang berhak untuk didahulukan menjadi imam adalah umur dalam masuk agama Islam. Adapun jika seseorang menjadi tua dalam kekafiran, kemudian masuk Islam, maka tidak didahulukan atas pemuda yang tumbuh dalam Islam.

Orang mulia yang berhak untuk didahulukan adalah apabila orang tersebut dari golongan Quraisy.

Yang dimaksud dengan hijrah di sini adalah dari orang yang berhijrah dari Makkah kepada Rasulullah saw., atau dari anak cucu mereka.

Apabila ada dua orang yang sama dalam ketentuan-ketentuan tersebut, maka sebagian dari para ulama' terdahulu berpendapat bahwa yang didahulukan adalah orang yang paling baik di antara mereka. Di antara para pendukung madzhab Syafi'i ada orang yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang yang paling baik tersebut adalah orang yang paling baik rupanya.

Di antara mereka ada orang yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang yang paling di sini adalah orang yang paling baik sebutannya di masyarakat.

Jika orang-orang yang berhak menjadi imam yang telah disebutkan di atas berkumpul dengan pemilik rumah, maka pemilik rumah adalah lebih utama menjadi imam daripada mereka. Hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari Abu Mas'ud Al-Badri bahwa Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:

لاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي أَهْلِهِ وَلاَ سُلْطَانِهِ وَلاَ يَجْلِسْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ.

"Janganlah sekali-kali seseorang laki-laki mengimami orang laki-laki lain pada keluarga laki-laki lain tersebut dan janganlah seseorang laki-laki duduk pada tempat duduk yang khusus bagi laki-laki lain, kecuali dengan izinnya".

Jika datang pemilik rumah dan orang yang menyewa rumah tersebut, maka penyewa rumah lebih utama untuk menjadi imam. Karena penyewa rumah lebih berhak mempergunakan manfaat-manfaat dari rumah tersebut.

Jika datang pemilik budak belian dan budak belian dalam sebuah rumah yang dibangunkan oleh majikan (pemilik budak) untuk tempat tinggal budak tersebut, maka sang majikan lebih utama untuk menjadi imam. Karena majikan tersebut adalah pemilik rumah tersebut pada hakikatnya, bukan si budak belian.

Jika berkumpul selain majikan dan budak dalam rumah budak tersebut, maka si budak lebih utama menjadi imam. Karena budak tersebut lebih berhak dalam mengatur rumah tersebut.

Jika orang-orang tersebut di atas berkumpul di masjid bersama imam masjid, maka imam masjid tersebut adalah lebih utama menjadi imam. Karena telah diriwayatkan bahwa Abdullah Umar mempunyai budak yang shalat dalam masjid, kemudian Ibnu Umar datang dan budaknya meminta beliau berdiri di depan sebagai imam. Ibnu Umar ra berkata: "Engkau lebih berhak menjadi imam di masjidmu!"

Jika imam dari orang-orang muslim berkumpul dengan pemilik rumah atau dengan imam masjid, maka imam dari orang-orang muslim tersebut adalah lebih utama, karena kekuasaannya adalah bersifat umum dan karena dia adalah pemimpin sedang orang-orang tersebut adalah orang-orang yang dipimpin; sehingga mendahulukan pemimpin adalah lebih utama.

Jika berkumpul orang musafir dan orang mukim, maka orang yang mukim adalah lebih utama. Karena sesungguhnya jiika orang mukim menjadi imam, maka seluruhnya menyempurnakan shalat sehingga mereka tidak berbeda. Dan jika orang musafir yang menjadi imam, maka mereka berbeda-beda dalam jumlah rakaat.

Jika orang merdeka berkumpul dengan budak belian, maka orang merdeka lebih utama. Karena menjadi imam itu adalah tempat kesempurnaan, sedangkan orang merdeka itu adalah yang lebih sempurna.

Jika orang yang adil dan orang yang fasik berkumpul, maka orang yang adil adalah lebih diutamakan, karena dia lebih utama.

Jika anak zina berkumpul dengan lainnya, maka lainnya adalah lebih utama. Sayyidina Umar ra. dan Mujahid menganggap makruh anak zina menjadi imam, sehingga selain anak zina adalah lebih utama dari pada anak zina.

Jika berkumpul orang yang dapat melihat dengan orang yang buta, maka menurut ketentuan nas dalam hal menjadi imam adalah bahwa kedua orang tesebut sama. Sebab orang yang buta itu mempunyai kelebihan karena dia tidak melihat hal-hal yang dapat melengahkannya. Sedang orang yang dapat melihat juga memiliki kelebihan, yaitu dapat menjauhkan diri dari najis.

Abu Ishaq Al-Maruzi berpendapat bahwa orang yang buta lebih utama. Sedangkan menurut Abu Ishaq As-Syairozi orang yang dapat melihat adalah lebih utama. Karena dia dapat menjauhi barang najis yang dapat merusak shalat. Sedang orang yang buta dapat meninggalkan memandang kepada hal-hal yang dapat melengahkannya; dan hal tersebut tidak merusak shalat.

Jumat, 24 Februari 2017

SATU KISAH PENDOA DAN KEADILAN ALLAH

Ketika kumohon pada Allah kekuatan, Dia memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat.

     °  Ketika kumohon pada Allah kebijaksanaan, Dia memberiku masalah untuk kupecahkan.
     °  Ketika kumohon pada Allah kesejahteraan, Dia memberiku akal untuk berpikir.
     °  Ketika kumohon pada Allah keberanian, Dia memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi.
     °  Ketika kumohon pada Allah sebuah cinta, Dia memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong.
     °  Ketika kumohon pada Allah bantuan, Dia memberiku kesempatan.
     °  Aku tak pernah menerima yang kuminta, tapi aku menerima segala yang kubutuhkan. Doaku terjawab sudah...

SATU RASA TAKUT

Bagaimana rasa takut itu menghinggapi jiwa-jiwa yang lemah?

     •  Orang yang takut mati, maka dia tidak akan menjatuhkan dirinya dalam bahaya.
     •  Orang yang takut miskin, maka dia hanya berpikir tentang uang dan segala bentuk kekayaan.
     •  Orang yang takut kekerasan, maka dia akan menghindari diri dari kerasnya pertarungan.
     •  Orang yang takut bersedih, maka dia tidak akan berdaya dalam perlombaan dan perjuangan.
     •  Orang yang tidak takut sesuatu akan merdeka, bebas dari tekanan, percaya diri dan mampu menguasai diri.
     •  Hanya Islamlah yang mengambil perasaan takut manusia itu, satu persatu lalu membuangnya dari dalam hati; mengikis pengaruhnya, agar hati sanggup menghadapi kehidupan dengan tangguh, kuat, dan lapang. (Muhammad Quthb)

JIKA HANYA SATU ALLAH TUJUANMU

Jika hanya satu, Allah yang jadi tujuanmu, maka kemuliaan akan datang dan mendekat kepadamu; segala bentuk keutamaan akan menghampirimu. Kemuliaan, sifatnya adalah mengikut. Artinya, jika engkau menuju Allah, kemuliaan akan mengikutimu. Tapi jika engkau hanya mencari kemuliaan, Allah akan meninggalkanmu. Jika engkau telah menuju Allah, kemudian tergoda untuk mencari kemuliaan selain bersama Allah, maka Allah dan kemuliaan-Nya akan meninggalkanmu.

Sebaik-baik tujuan adalah menuju Allah. Jika hanya Allah yang engkau tuju, perbanyaklah bekal yang baik dan diridhoi oleh-Nya. Hindarilah semua yang bisa mematahkan semangatmu. Hancurkan semua yang menghalangimu. Kuatkanlah langkah-langkahmu. Istiqomah, berketetapan hatilah untuk senantiasa berada di jalan-Nya. (Ibnu Qayyim, Al-Fawaid)

Selasa, 21 Februari 2017

EMPAT KESADARAN dan BUAHNYA

Ada empat kesadaran yang membuahkan kesadaran lain yaitu:
     Pertama, barangsiapa yang merindukan surga, maka ia akan bersegera dalam melaksanakan kebaikan.
     Kedua, barang siapa takut akan siksa api neraka, maka ia akan berhenti mengikuti hawa nafsu.
     Ketiga, barangsiapa meyakini datangnya kematian, maka ia tidak akan terlena dengan kesenangan duniawi.
     Keempat, barangsiapa mengetahui bahwa dunia adalah negeri cobaan, maka semua musibah yang menimpanya akan terasa ringan. (Ali bin Abi Thalib ra)

EMPAT SIFAT SAHABAT YANG PERLU DIJAUHI

Wahai putraku, hafalkan empat hal dariku tentang sifat sahabat yang perlu engkau jauhi.
     Pertama, janganlah engkau bersahabat dengan orang bodoh, karena dia akan memanfaatkan dirimu dan itu akan membahayakanmu.
     Kedua, janganlah engkau bersahabat dengan seorang pendusta, karena ia akan mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat kepadamu.
     Ketiga, janganlah engkau bersahabat dengan orang yang bakhil karena ia akan mendiamkanmu pada saat engkau membutuhkannya.
    Keempat, janganlah engkau bergaul dengan orang yang gemar melakukan dosa karena ia akan menjualmu dengan sesuatu yang sepele. (Ali bin Abi Thalib ra)