Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Maret 2013

Perempuan, ASI, dan Asuhan


Photo © Michael Howard
Perempuan, rasanya tak pernah bosan saya mendengar dan membicarakan tentang makhluk satu ini. Perempuan dengan berbagai keunikan dan keterbatasanya adalah makhluk luar biasa yang dijaga betul kehormatannya dalam agama saya, Islam. Ia diberikan kemudahan dan berbagai kenikmatan yang memang sudah disesuaikan dengan kemampuannya. Bagi saya, perempuan itu bukan makhluk lemah, tak berdaya, dan bukan makhuk yang harus ditutut sama persis dengan laki-laki. Jika jihadnya laki-laki adalah berperang di jalan dakwah, maka merawat anak dan keluarga adalah bentuk jihadnya perempuan.
Salah satu keistimewaan dari perempuan adalah memiliki ASI. Al Quran telah menganjurkan agar setiap ibu dapat memberikan ASI pada anaknya hingga usia dua tahun. Allah berfirman dalam QS Al Baqarah: 233, “Dan para ibu yang menyusui anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang mau menyempurnakan penyusunan.” Meski kini sudah ada susu formula yang diramu dengan teknologi tinggi, namun ASI tetap tak tergantikan baik secara unsur, komposisi, dan efek manfaat yang diberikan. Penelitian dari WHO menganjurkan pemberian ASI didasarkan atas keinginan dari bayi. Setiap kali bayi menginginkan, maka ketika itulah saat yang terbaik pemberian ASI.
Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak, DTM&H, MPH dalam sambutannya pada seminar tentang “Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif Bagi Bayi Dalam Mendukung MDGs” di Jakarta, Selasa 29 Maret 2011 menambahkan bahwa delapan puluh persen perkembangan otak anak dimulai sejak dalam kandungan sampai usia 3 tahun yang dikenal dengan periode emas. Oleh karena itu, diperlukan pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan dan dapat diteruskan sampai anak berusia 2 tahun. Hal tersebut dikarenakan ASI mengandung protein, karbohidrat, lemak, dan mineral yang dibutuhkan bayi dalam jumlah yang seimbang.
Sebuah penelitian ilmiah baru menunjukkan bahwa menyusui sangat berperan membantu berkurangnya risiko kanker payudara di kalangan ibu. Melinda Johnson, ahli gizi University of Arizona menyebutkan bahwa ASI merupakan asupan paling ideal bagi pertumbuhan anak. Kandungan  docosahexaenoic acid (DHA) dan omega 3 merupakan asupan yang sangat baik bagi pertumbuhan otak dan sistem saraf anak. Dengan adanya komponen ini, dapat menjadikan anak berprestasi akademik yang lebih baik.
ASI juga kaya akan karotenoid dan selenium sehingga ASI berperan dalam sistem pertahanan tubuh bayi untuk mencegah berbagai penyakit. ASI mengandung antibodi yang melindungi bayi dari diare dan pneumonia yang termasuk dua penyakit utama penyebab kematian anak-anak di dunia. Setiap tetes ASI juga mengandung mineral dan enzim untuk pencegahan penyakit dan antibodi yang lebih efektif dibandingkan dengan kandungan yang terdapat dalam susu formula.
ASI dapat memperkuat hubungan emosional anak dan ibu. Baru-baru ini ditemukan hormon kepercayaan pada otak ibu yang menyusui anaknya. Pada saat bayi menyusu dari payudara ibunya, maka sel-sel saraf pada otak ibu akan mengeluarkan hormon kepercayaan yang dapat juga membangkitkan rasa kepercayaan pada bayi yang disusui. Proses ini turut mengurangi rasa takut yang ada pada bayi terhadap dunia baru yang ia alami. Pemberian ASI ini dapat membentuk perkembangan emosional karena dalam dekapan ibu selama disusui, bayi bersentuhan langsung dengan ibu sehingga mendapatkan kehangatan, kasih sayang dan rasa aman.
Begitu besar manfaat ASI untuk bayi dan ibu yang menyusui. Begitu mulia pula para wanita yang mau menyusui bayinya dengan kerelaan. Ketika seorang perempuan mau menyusui anaknya, dapat dikatakan ia turut membangun bangsa ini melalui generasi baru yang dilahirkannya. Dengan memberikan ASI pada anaknya, hal ini menjadi salah satu bentuk pengasuhan seorang ibu untuk turut mencerdaskan benih generasi masa depan bangsa ini. Apalagi jika seorang ibu juga mau mendidik anaknya dengan tulus dan cara yang baik agar ia  menjadi manusia yang cerdas, kuat, dan berakhlak mulia.
Sejak anak dilahirkan, anak-anak telah membutuhkan ibu sebagai pihak yang penting untuk bergantung hidup dan harapan mereka sebelum mengenal siapapun. Maka, tidak berlebihan bila ibu disebut sebagai pendidik pertama dan utama. Seorang ibu yang betul-betul menyadari perannya sebagai pendidik utama, tidak akan mempermasalahkan pendidikannya yang rendah karena itu hanya salah satu bagian dari pendidikan yang perlu diajarkan pada anak. Sikap yang baik, empati, saling menghormati, tata krama, menolong, cerdik, dan hal-hal lain yang tidak secara khusus diajarkan di sekolah, padahal inilah yang lebih penting diajarkan. Maka, tidak salah jika Pohan (1986) dalam bukunya yang berjudul “Masalah Anak dan Anak Bermasalah” mendukung bahwa orang tua harus mampu meng-upgrade diri agar dapat mengimbangi, menyelaraskan, menyokong, dan memperkokoh pendidikan keluarga guna mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai kebaikan.
Penting bagi orang tua, ayah dan ibu, untuk saling bekerja sama dalam menumbuh kembangkan serta mendidik anaknya. Kunci keberhasilan orang tua dalam mendidik anak menurut Pohan (1986) adalah keserasian dan kasih sayang. Dalam suasana kasih sayang dan keserasian, orang tua dapat dengan ikhlas bekerja sama, serta rela berkorban mengabdi untuk mendidik anak mereka.
Peran seorang perempuan sebagai orang tua anak adalah penting dalam membesarkan dan mendidik anak mereka. Ia juga berperan menjadi agent of change dalam pembangunan kesehatan membawa masyarakat menuju masyarakat yang sehat dan mandiri. Tentu akan sangat mulia seorang perempuan yang mendidikasikan dirinya untuk keluarga terutama anak-anaknya. Dengan kondisi anak yang sehat, gizi yang tercukupi, kasih sayang yang diberikan sang ibu, dan pendidikan utama dari sang ibu, anak Indonesia siap tumbuh menjadi manusia yang cerdas, kuat, dan berakhlak mulia guna memajukan bangsa ini. Semuanya bisa dimulai dari keluarga terutama dalam hal pengasuhan ibu, yaitu dengan diawali pemberian ASI eksklusif bagi anak yang mencukupi.
Oleh: Fatin Rohmah NW, Depok

Minggu, 07 Oktober 2012

Perempuan dan Warisan

 Perempuan dan Warisan

Harta terbaik ialah yang terjamin kehalalannya dan keberkahannya.
Harta tersebut yang tak membuat perselisihan diantara persaudaraan.
Maka carilah harta di jalan Allah, dan bagilah sesuai aturan-Nya.
Agar berkah untuk anak cucu dan sesama.
* * *
Suasana duka masih menyelimuti rumah Ayra. Sudah tiga hari Ibunya berpulang ke Rahmatullah menyusul ayahnya 2 tahun yang lalu. Ke 2 kakak Ayra, mas Bimo dan mas Yuda masih di rumah karena tamu yang melayat masih berdatangan. Ayra adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga Wiryawan dan paling bungsu. Semenjak kedua kakaknya menikah dan ayahnya meninggal tanpa sakit, ia yang menemani ibunya. Pekerjaan di Ibukota ia tinggalkan, beruntung tak sampai 2 bulan menganganggur ia sudah mendapat panggilan wawancara dari perusahaan vendor telekomunikasi di Bandung tempat Ayra tinggal. Meskipun ibunya telah hidup berkecukupan, namun Ayra tak terbiasa hidup tanpa aktivitas. Ayah Ayra, Pak Wiryawan pensiunan angkatan udara. Karena beliau tak ingin hidup dari hasil pensiunan semata, maka usaha ternak dan kebun ia tekuni untuk mengisi kegiatan di sela aktivitasnya bekerja dan setelah pensiun.

Mengingat kedua sosok yang dihormati dan dicintainya, hatinya semakin perih. Kini Ayra tinggal sendiri, padahal 2 bulan lagi ia akan menikah. Barang-barang di kamarnya pun sudah ia pindahkan ke rumah baru yang akan ia tempati bersama calon suaminya kelak.
Hanya mbak Siti, asisten rumah tangga yang menemaninya di rumah, meskipun mbak Siti terlihat sedih namun ia masih bisa menghibur Ayra.
Belum genap 10 hari, Ayra harus bekerja kembali. Mengubur kesedihannya, bergegas ke kantor. Pekerjaanpun menumpuk pasca ia cuti. Ketika jam istirahat, Ayra melihat ponsel. Beberapa sms dari sahabatnya dan sms mas Bimo. Terharu membaca sms penguat hati dari beberapa sahabatnya, Ayra merasa bekerja dalam kondisi berduka sangat berat. Namun lebih berat lagi jika tidak beraktivitas. Dan sms dari mas Bimo yang membuatnya kaget, Ayra berpikir apa tidak terlalu cepat membicarakan pembagian warisan disaat belum 1 bulan Ibunya meninggal.
Malam itu sesampainya dirumah, mas Bimo sudah menunggunya. Tak lama mas Yuda juga datang. Ternyata malam itu bukan hanya ada kedua kakak Ayra, tapi ada Om Darmawan, adik dari Ayah. Kata mas Bimo, kami membutuhkan nasehatnya untuk membimbing kami membaginya sesuai ajaran Islam. Menata hati disaat merasa kesepian karena kehilangan sosok yang berarti, dan harus mempersiapkan acara pernikahannya tanpa support dari orang tua. Sekarang ditambah lagi proses pembagian warisan. Namun beruntung Ayra di bantu oleh kedua kakak ipar dan kelurga besar untuk kelancaran acara pernikahannya. Serta kedua kakaknya yang tak mempermasalahkan berapa bagian yang harus mereka terima. Ayra yang merasa tak enak, manakala kedua kakak Ayra menyisihkan bagian mereka untuknya. Ayra sudah bersyukur dapat menikmati hasil peninggalan orang tua tanpa ia harus bekerja. Ayra merasa tenang, karena proses pembagian waris sesuai Islam tak memakan waktu yang lama, mungkin karena Ayra dan kedua kakaknya ikhlas akan aturan-aturan Allah. Ayra paham bahwa ia akan menerima setengah bagian saja dari kedua kakak mereka karena ia perempuan. Namun tak disangka jika setelah proses pembagian selesai kakaknya akan memberi sebagian haknya, agar Ayra menerima sama rata dengan mereka. Bagi Ayra, tak masalah berapapun yang ia terima. Yang terpenting adalah ia tak mau warisan hanya akan menjadi masalah dan menjauhkan persaudaraan mereka.
* * *
Betapa indahnya Islam yang mengatur umat muslim diseluruh aspek kehidupan. Mulai dari kelahiran, kematian, pernikahan, perceraian, fiqih perempuan, shalat, perekonomian, kehidupan bertetangga, pendidikan, ilmu pengetahuan hingga hukum waris. Allah mengaturnya dalam Al Quran dan As Sunnah. Sedemikian pentingnya kehidupan umat muslim, hingga Allah menciptakan kebaikan disetiap perintah Nya. Karena sesungguhnya hamba Nya selalu Dia muliakan. Tergantung seberapa kita merendahkan hati untuk menerima hidayah Nya, dan menimba ilmu–ilmu Allah.
Dua untuk Lelaki dan Satu untuk Perempuan
Dalam pandangan Islam perempuan tidak diwajibkan mencari nafkah atau memberi kesejahteraan yang berbentuk uang. Namun Islam mewajibkan perempuan fokus untuk mendidik anak-anak, mengurus suami dan keluarganya. Disisi lain tugas perempuan cukup banyak dan berat, sehingga kewajiban untuk mencari nafkah menjadi tugas suami. Islam sangat menghormati perempuan dalam hal kewajiban mencukupi kebutuhan. Karena hal inilah, Islam membagi harta warisan lebih banyak lelaki daripada perempuan. Sebab lelaki berkewajiban menafkahi orang tuanya, istri, anak, dan saudara perempuan yang janda serta membayar mas kawin (mahar).
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS An Nisa : 34)
Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS An Nisa : 11)
Dalam beberapa keadaan, perempuan bisa saja mendapatkan nilai yang sama atau lebih banyak daripada lelaki, dikarenakan beberapa faktor misalnya wasiat atau kekerabatan.
Menyikapi Harta Warisan
Harta warisan sama halnya dengan rizqi tak terduga, karena kita tidak ikut berkeringat dalam mencarinya namun kita mendapatkan bagian. Maka Allah mengatur dengan adil pembagian harta tersebut. Sebagai muslim yang bertaqwa, hendaknya kita memakai aturan Allah saja untuk kemaslahatan bersama. Bukan tidak mungkin terjadi perpecahan antara pihak keluarga dan saudara kandung ketika salah pihak merasa tidak adil atas pembagian hak tersebut. Mungkin Ayra sebagian contoh kasus kecil yang ada ditengah-tengah kita. Masih banyak contoh kasus yang lebih rumit atau sederhana. Sebaiknya kita mengambil porsi yang memudahkan saja, agar tercipta keikhlasan diantara kedua belah pihak. Sehingga nantinya harta yang diperoleh pun terasa keberkahannya. Tak jarang jika salah satu pihak tidak ikhlas, maka harta tersebut hanya akan menjadi musibah. Na’udzubillah.
Sesungguhnya tidak ada beda antara lelaki dan perempuan. Masing-masing memperoleh hak nya yang disesuaikan dengan kewajibannya. Semua ada kebaikan disana manakala kita mensyukuri setiap yang kita terima sesuai kehendak Allah.
Semoga tulisan sederhana ini membuat para muslimah lebih bijak dalam menyikapi harta warisan. InsyaAllah.

Perempua, Belanja, dan Kartu Kredit

 

Seharusnya keinginan dan kebutuhan berjalan selaras.
Seharusnya prioritas pun menjadi yang utama dalam pemenuhan kebutuhan.
Tapi, mengapa kadang mereka tak seiring sejalan dan seolah saling melupakan satu sama lain?
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”. (Qs. Al Furqaan 67)
Banyak yang bilang, perempuan pandai mengelola keuangan. Tapi tidak sedikit pula yang bilang, bahwa perempuan juga pandai menghabiskan tabungan. Pernyataan ini membuat saya tersenyum kecut merasa tersindir. Karena penyebutan kata perempuan. Yang berarti saya juga perempuan.
Disebut pandai mengelola keuangan. Mungkin bagi mereka yang dapat mencukupi kebutuhan berdasar prioritas, mengalokasikan yang harus dibayar dan dapat menyisakannya untuk disimpan. Meskipun pemasukan cenderung pas-pasan. Dan yang disebut menghabiskan tabungan adalah pemasukan berlimpah, tapi masih saja membayar tagihan ke banyak pihak.
Beberapa survey kecil di sekitar membuktikan, bahwa kendala utama perempuan kurang mampu mengolah keuangannya sendiri dikarenakan gaya hidup. Konteks gaya hidup disini lebih diartikan pada gaya hidup yang berlebihan namun pemasukan yang serba kekurangan. Ironisnya mereka yang terjebak dalam kondisi ini, memilih hutang konsumtif, dan kartu kredit sebagai salah satu solusinya. Saya menyebutnya hutang berkelas, maksudnya untuk ‘yang ingin dianggap’ kelas ke atas dengan membayar cicilan bunga yang semakin naik ke atas pula.
Di pusat perbelanjaan, stand-stand bank yang menawarkan kartu kredit banyak dipenuhi perempuan. Belum lagi kalimat menawarkannya yang khas yaitu “memberikan kemudahan dalam berbelanja”. Maka semakin saja menarik perhatian para perempuan yang hobi berbelanja. Untuk kaum adam mungkin perbandingannya lebih kecil daripada kaum hawa. Tapi entahlah jika kaum adam ternyata lebih memilih untuk langsung mengunjungi bank tersebut , supaya terhindar antrian panjang kaum hawa yang sedang asyik menyimak dengan baik penjelasan tim Customer Service bank tersebut.
Berbagai macam diskon dan fasilitas jasa ditawarkan. Mulai dari potongan harga jika membeli dengan memakai katu kredit dari bank “X”, yang nantinya jika menggunakan kartu tersebut poin akan bertambah lalu dapat ditukar dengan berbagai macam hadiah yang dapat membuat calon nasabah nya supaya tergoda lalu memutuskan kartu kredit mana yang akan digunakan. Mereka yang sudah menggunakan kartu kredit tersebut lupa, bahwa sebenarnya mereka bukan mendapat hadiah melainkan mereka membayarnya melalui cicilan bunga yang mencekik leher. Belum lagi untuk calon nasabah yang suka bepergian, mereka dapat menggunakan fasilitas teletravel, yang hanya dengan memesan ‘by phone’ maka tiket sudah ditangan. Atau fasilitas tarik tunai dari kartu kredit ke rekening nasabah melalui ATM dengan logo tertentu. Dan tentu saja masih dengan bunga berlipat yang tak jauh beda dengan rentenir jika prinsip yang mereka terapkan berdasar riba’.
Tidak sedikit yang menjadi korban “kecanggihan” dari kartu kredit. Banyak yang tidak sanggup membayar cicilan. Lalu memutuskan untuk menutup kartu tersebut dan hanya membayar cicilan tunggakan beserta bunganya saja. Seorang teman yang memakai kartu kredit, mengakui menyesal menggunakannya. Kemudahannya dalam berbelanja dengan kartu kredit, membuat perempuan itu tidak dapat mengontrol dirinya. Ia tidak lagi mampu mengukur kemampuannya dalam berbelanja. Yang kebutuhan sudah tidak lagi prioritas, yang keinginan malah jadi prioritas. Atau yang seharusnya cukup membeli satu, karena ada diskon dari merchant apabila menggunakan kartu kredit tersebut, maka barang yang dibelinya lebih dari satu. Sampai suatu saat ia terkaget begitu menerima tagihan yang membengkak berlipat-lipat. Terbukti bahwa kartu kredit sama sekali tidak memberikan kemudahan dalam berbelanja atau pun bertransaksi tetapi malah memberi kesusahan di akhirnya. Ya begitulah sistem riba’ bekerja di kehidupan kita.
Saya bukan tidak setuju dengan bank non-syariah, tetapi jika ada bank syariah, kenapa memilih sistem riba’ untuk mengelola keuangan kita?
Lalu kenapa juga kita memilih kartu kredit, jika isi tabungan masih bisa di debit? Atau jika tidak ada yang di debit, berarti Allah menganjurkan kita “puasa” dulu untuk mengendalikan hawa nafsu. Agar kelak ketika Allah memberikan kita rezeki berlebih, nafsu sudah terkuasai.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba’, dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. (Qs. Ali ‘Imran:130)
Hidup adalah pilihan. Jika ingin berkah, mulailah dengan memilih gaya hidup syariah. Maka, hindari riba’ dan sebaiknya tinggalkan budaya berhutang konsumtif untuk mencapai Ridho Nya.