Dari Aisyah radhiyallahu‘anha bahwasanya ia pernah bertanya kepada Nabi ๏ทบ tentang wabah Tha’un, lalu beliau menjawab :
ุฅูู ูุงู ุนุฐุงุจุง ูุจุนَุซُُู ุงُููู ุนูู ู
ู ูุดุงุก، ูุฌุนَُูู ุงُููู ุฑุญู
ุฉً ููู
ุคู
ููู، ูููุณ ู
ู ุนุจุฏٍ ููุนُ ุงูุทุงุนُูู، ููู
ُْูุซُ ูู ุจูุฏِู ุตุงุจุฑًุง، ูุนูู
ُ ุฃَّูู ูู ูุณ ุตِูุจَู ุฅูุง ู
ุง ูุชุจ ุงُููู ูู، ุฅูุง ูุงู ูู ู
ِุซُْู ุฃุฌْุฑِ ุงูุดَِููุฏِ.
"Sesungguhnya tha’un itu dahulunya
merupakan azab yang Allah ๏ทป kirim kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki. Kemudian Allah๏ทป menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Maka itu, tidaklah seorang hamba (muslim) berada di suatu negeri yang tersebar padanya wabah tha’un, lalu ia tetap menetap di sana dengan penuh kesabaran, ia yakin bahwa tiada ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah ๏ทป tetapkan baginya, melainkan baginya pahala seperti orang yang mati syahid."
(HR. Bukhari)